Senin, 30 April 2018

Nilai Manusia dalam Perspektif Kedalaman

Nilai Manusia dalam Perspektif Kedalaman
       Oleh: Dr. Husni Mu'az


Umumnya hampir semua orang percaya bahwa manusia terdiri atas dua unsur: materi dan non-materi, atau jasad dan ruh (xe "kesadaran"kesadaran), kecuali dari kelompok filosof materialis/fisikalis yang secara ontologis melihat manusia sebagai yang bersifat monistik. Materi atau jasad adalah dimensi luar sedangkan roh/jiwa (xe "kesadaran"kesadaran) adalah dimensi dalam dari manusia. Unsur luar (badan) terdiri atas atom-atom yang membentuk molekul-molekul, molekul-molekul membentuk sel-sel yang selanjutnya membentuk organisme. Unsur luar terdiri atas materi murni (hierarki paling rendah) yang menjadi unsur dasar dari kehidupan biologis (hierarki yang lebih tinggi). Ciri kehidupan, menurut xe "Maturana dan Varela"Maturana dan Varela, adalah xe "autopoiesis"autopoiesis, yaitu kemampuan xe "living systems"xe "living systems"living systems memproduksi (komponen-komponen) diri sebagai cara mempertahankan keberadaannya. Kemampuan ini tidak dimiliki oleh atom atau molekul di level fisik yang lebih rendah. Unsur dalam dari manusia bersifat non-materi, tidak memiliki bentuk dan tidak menempati ruang. Ia ada tapi tidak di dalam ruang seperti jasad atau materi. Unsur dalam ini mengada dan berinteraksi dengan badan. Jadi, eksistensi manusia terdiri atas minimal tiga  unsur dari tiga level hierarki, sebagai berikut (xe "Wilber"Wilber, 1995):
level 1: physiosphere (materi/fisik);
level 2: biosphere (jiwa/kehidupan);
level 3: xe "noosphere"noosphere (ruh/xe "kesadaran"kesadaran).
Dengan unsur-unsur dari tiga level ini manusia mengada dalam dua dunia, dunia materi dan dunia non-materi, atau dunia luar (exterior) dan dunia dalam (interior). Nasibnya juga akan ditentukan oleh kemampuannya menari diantara dua dunia ini, yaitu antara dunia luar dan dunia dalam, dunia lahir dan dunia batin, dunia kognitif dan dunia trans-kognitif, dunia material dan dunia spiritual.
Sekalipun banyak yang percaya bahwa kita memiliki elemen konstitutif seperti di atas (terdiri atas unsur-unsur dari level 1, 2, dan 3), sering kita tidak sadar dan bahkan terjebak mereduksi diri seolah-olah kita mengada hanya di level dua. Bukankah, misalnya,  kita menerima klaim para ahli ekologi bahwa kita (manusia) adalah bagian dari sistem biologis (ekosistem biologi) dan sistem biologis adalah bagian dari sistem alam (level 1). Siapa yang menolak klaim bahwa kita adalah bagian dari sistem alam? Selama ini secara tidak sadar kita telah terjebak dan terperangkap dalam dimensi “keluasan,” dimana di dalamnya kita hanya bisa melihat bahwa secara kuantitas kita adalah bagian (satu jenis) dari berbagai jenis binatang/hewan dengan ciri tertentu, dan kita secara material adalah debu dibandingkan dengan isi dan luasnya jagad raya ini. Kita adalah bagian dari alam dan harus menyatu dan bersahabat dengannya.
Ini adalah pendapat yang merendahkan harkat dan martabat kemanusiaan kita. Apa yang salah di sini? Yang salah adalah bahwa, secara tidak disadari, pendapat ini telah mereduksi diri manusia menjadi sebuah entitas monodimensi, yaitu entitas yang hanya memiliki dimensi luar atau dimensi material saja. Yang salah adalah karena kita terjebak dalam xe "flatland consciousness"flatland xe "consciousness"xe "consciousness"consciousness (xe "Wilber"Wilber, 1995), dalam xe "kesadaran"kesadaran keluasan, dan lupa bahwa diri kita lebih mulia dan lebih kompleks karena kita juga terdiri atas entitas yang memiliki dimensi dalam. Agaknya Capra juga terjebak dalam cara berpikir (baca: xe "kesadaran"kesadaran) yang sama. Manusia dalam The web of life adalah bagian dari xe "eko-sistem"ekosistem, dan oleh karenanya mereduksi xe "teori"teori sistem atau berpikir sistem sebagai seolah-olah hanya mampu melihat dunia obyek, yaitu dunia yang eksternal, yang material, yang flatland saja.
Yang hilang dalam perspektif ini adalah xe "kesadaran"kesadaran akan dimensi “dalam” dalam diri manusia. Bagaimana mungkin kita bisa melihat dan menemukan kedalaman isi yang ada dalam dimensi “dalam” dalam dunia luar? Isi level 3 tidak akan kita temukan dalam level 1 atau level 2, karena isi level 3 hanya ada dalam level 3, yang berada di atas hierarki level 1 dan level 2.
Yang kita perlukan adalah perspektif dengan dimensi “kedalaman,” bukan dimensi “keluasan.” Dlam perspektif “kedalaman” kita kembali ke hierarki atau kompleksitas kejadian kita, kompleksitas konstitutif kita. Sebagaimana disinggung di atas, manusia mengada dengan tiga unsur yang tersusun secara hierarkis. Material (atom, molekul) adalah unsur pembentuk yang ada pada level 1. Tanpa unsur ini (untuk mudahnya kita sebut unsur A), kehidupan biologis di level 2 tidak mungkin terjadi. Elemen konstitutif dasar dari kehidupan (level 2) adalah A; tapi A saja tidak cukup karena A hanya akan melahirkan entitas yang ada pada level 1 saja. Untuk kehidupan biologis di level 2 diperlukan elemen konstitutif lain disamping A, yaitu B. AB dengan demikian adalah elemen konstitutif kehidupan yang berada di level 2 (xe "biosphere"biosphere). Karena xe "biosphere"biosphere tidak akan ada tanpa A, maka merusak atau menghilangkan A sama dengan merusak atau menghilangkan AB. Tetapi sebaliknya tidak berlaku. Sekalipun xe "biosphere"biosphere tidak mungkin ada tanpa B, merusak atau menghilangkan B tidak akan merusak atau menghilangkan physiosphere yang berada pada level 1. Ini karena B berada di level hierarki yang lebih tinggi dari A (level 1).
level 1: Materi/fisik = A
level 2: Kehidupan biologis = AB
level 3: Ruh/xe "kesadaran"kesadaran = ABC
Manusia berada di level 3, yang unsur pembentuknya disamping A dan B, tapi juga C (xe "kesadaran"kesadaran), yaitu unsur konstitutif baru yang menjadi ciri khas manusia. Manusia, dengan demikian, terdiri atas unsur A, B, dan C. A dan B, sekalipun merupakan elemen konstitutif dari manusia, bukanlah ciri khas manusia. Ciri unik manusia adalah C, yaitu unsur ruhani atau xe "kesadaran"kesadaran yang berada di dunia dalam. Tanpa C manusia sama dengan AB (hewan/binatang) sebagai mana juga tanpa B kehidupan di level 2 akan sama dengan A. Akan tetapi ABC karena berada di level hierarki yang paling tinggi tidak mungkin ada bila AB, atau B saja, atau A saja tidak ada, karena A atau B, atau AB adalah bagian dari ABC. Entitas pada level 3 tidak akan ada bila unsur yang berasal dari level 1 atau level 2 atau level 1 dan 2 tidak ada. Merusak unsur yang berasal dari level 2 (xe "biosphere"biosphere) sama dengan menghilangkan entitas yang ada pada level 3, tapi sebaliknya tidak berlaku.
Sekarang problem yang muncul dalam perspektif “keluasan” atau xe "flatland consciousness"flatland xe "consciousness"xe "consciousness"consciousness yang selama ini kita tidak sadari adalah sebagai berikut. Bila manusia, ABC, yang berada pada level 3 adalah benar merupakan bagian (baca: elemen konstitutif) dari ekosistem biologi, AB, yang berada pada level 2, maka ekosistem biologi tidak akan ada atau akan hilang atau minimal rusak bila manusia tidak ada atau menghilang! Demikian juga jagad raya ini akan hilang atau rusak bila sistem biologis hilang atau rusak, karena, sebagaimana diasumsikan dalam xe "flatland consciousness"flatland xe "consciousness"xe "consciousness"consciousness, xe "biosphere"biosphere adalah bagian dari physiosphere. Tapi ini tidak terjadi. Ekosistem alam tidak akan rusak bila manusia atau semua sistem biologis tidak ada, atau rusak.
Bahasan di atas merujuk pada logika sederhana. ABC tidak mungkin bisa menjadi bagian dari AB, atau bagian dari A, sebagaimana juga tidak mungkin AB bisa menjadi bagian dari A. Yang benar adalah sebaliknya: sistem A adalah bagian dari sistem AB, dan sistem AB adalah bagian dari sistem ABC, dan secara transitif sistem A adalah bagian dari sistem ABC.  Jadi yang salah dan bertentangan dengan logika sederhana adalah klaim bahwa kita manusia adalah bagian dari sistem alam, dan/atau bagian dari sistem biologi. Ini terjadi karena perspektif yang kita gunakan selama ini adalah perspektif keluasan, perspektif flatland, atau perspektif eksternal saja dan perspektif ini tentu tidak mampu mengakomodir dimensi dalam dari manusia.
Yang kita perlukan adalah perspektif yang sebaliknya, yaitu perspektif “kedalaman,” bukan “keluasan.” Dilihat dari perspektif “kedalaman” manusia bukan bagian dari sistem biologis dan juga bukan merupakan bagian dari sistem alam. Manusia melampaui ke duanya, karena unsur unsur dalam physiosphere (A) dan xe "biosphere"biosphere (B) adalah elemen konstitutif material dari manusia. Bukankah keseluruhan tidak bisa menjadi bagian dari bagian-bagiannya? Jadi selama ini yang kita tidak sadari adalah adanya gap (tidak adanya konsistensi logis) antara kompleksitas eksistensi (realitas ontologis, yang terdiri atas ABC) dengan xe "kesadaran"kesadaran akan kompleksitas eksistensi itu (xe "kesadaran"kesadaran epistemik tentang realitas ontologis, yaitu xe "kesadaran"kesadaran bahwa diri kita terdiri atas ABC). Akibatnya yang lahir adalah xe "kesadaran"kesadaran ekologis (xe "kesadaran"kesadaran hewani/nabati) dan/atau xe "kesadaran"kesadaran materi (xe "kesadaran"kesadaran alami), tetapi, sebagai akibatnya, tidak lahir xe "kesadaran"kesadaran dalam/bathin (xe "kesadaran"kesadaran nurani, atau xe "kesadaran"kesadaran akan xe "kesadaran"kesadaran) karena xe "kesadaran"kesadaran akan xe "kesadaran"kesadaran telah tereduksi menjadi bagian dari xe "kesadaran"kesadaran hewani atau xe "kesadaran"kesadaran alami.
Dalam perspektif kedalaman, saya ingin menawarkan perspektif yang radikal tentang manusia: alam (physiosphere dan xe "biosphere"biosphere) adalah bagian dari ekosistem manusia, bukan sebaliknya. Manusia adalah makrokosmos, bukan mikrokosmos sebagaimana yang terlihat dalam dimensi keluasan. Kesadaran manusia sedari awal (primordial) adalah xe "kesadaran"xe "kesadaran makrokosmik"kesadaran makrokosmik (xe "trans-kognitif"xe "trans-kognitif"trans-kognitif) yang berada di luar ruang dan waktu karena konsep ruang dan waktu adalah konsep jagad raya yang sudah berada dalam diri manusia. Kesadaran makro-kosmik adalah xe "kesadaran"kesadaran trans-kosmik, yaitu xe "kesadaran"kesadaran bahwa kita selalu vis-a-vis berhadapan dengan Sang Pencipta, bukan berhadapan dengan kosmos.
Karena alam adalah bagian konstitutif dari manusia, maka masuk akal jika apabila alam mengalami kerusakan maka manusia juga akan binasa. Sebaliknya, bila alam terpelihara maka manusia dan kehidupan akan terpelihara. Tetapi terpeliharanya alam hanya akan menjamin kemungkinan terpeliharanya dimensi luar (eksterior, atau unsur AB) atau badan dari manusia. Dunia dalam (bathin) manusia tidak terkait secara langsung dengan terpelihara tidaknya alam eksternal. Karena unsur C dalam diri manusia berkaitan dengan dunia dalam yang menjadi ciri kemanusiaannya, maka sehat tidaknya C akan tergantung pada pemenuhan kebutuhan dari C (yang pada saatnya nanti akan dielaborasi secukupnya).
Apa implikasi dari cara pandang dengan perspektif kedalaman, yaitu bahwa manusia adalah xe "makrokosmos"xe "makrokosmos"xe "makrokosmos"makrokosmos, yang di dalamnya alam merupakan elemen konstitutif atau menjadi bagian darinya? Implikasi pertama berkaitan dengan konsep martabat manusia. Manusia atau subyek dalam perspektif ini memiliki nilai yang sangat tinggi dan tidak bisa ditandingi atau ditukar bahkan oleh seluruh jagad raya dengan segala isinya. Bukankah esensi dari alam (baca: physiosphere dan xe "biosphere"biosphere) sudah terepresentasikan dalam diri (dimensi ragawi) manusia? Seluruh alam dan isinya tidak bisa membentuk apalagi menggantikan potensi rohaniah yang dimiliki manusia. Alam tanpa manusia, betapapun gegantiknya, adalah obyek yang mekanistik yang akan selalu menjadi obyek tanpa nama dan tanpa sebutan bila tidak ada manusia. Alam memiliki makna karena manusia memberikan makna padanya. Karena nilai alam lebih rendah dari manusia, mestinya konflik antar sesama manusia tidak boleh terjadi semata-mata karena alam (materi), betapapun banyaknya, karena nilainya lebih rendah dari manusia. Materi, sekali lagi betapapun banyaknya, hanya memiliki nilai instrumental. Keluasan alam yang hampir tidak terhingga itu tidak akan membuatnya memiliki nilai yang bersifat intrinsik. Oleh karenanya penghargaan yang berlebihan terhadap dunia materi sehingga melahirkan kesombongan dan egoisme adalah simtom adanya proses perendahan diri, suatu penyakit akibat jebakan xe "kesadaran"kesadaran keluasan dalam diri seseorang. Manusia yang bermartabat adalah manusia yang menghargai diri dan diri orang lain (kemanusiaan) tidak berdasarkan apa yang dimilikinya, tetapi semata-mata karena xe "kesadaran"kesadaran akan nilai intrinsik yang dimiliki oleh diri dan setiap diri yang lain. Tetapi xe "kesadaran"kesadaran seperti ini akan lahir bila, dalam melihat diri kita, kita menggunakan perspektif kedalaman.
Implikasi ke dua berkaitan dengan konsep transendensi. Selama ini, dari berbagai perspektif (tasawuf, filsafat manusia, dan lain lain), kita mengenal bahwa kesucian manusia sangat terkait dengan kemampuannya mentransendensikan diri dari dunia terbatas dan jangka pendek (dunia secara literal berarti dekat, di sini), yaitu dunia material, dunia nafsu, menuju dunia xe "non-material"non-material atau dunia spiritual yang tak terbatas dan yang menjanjikan kehidupan yang abadi. Konsep transendensi kedengarannya tidak saja esoteris, tapi juga sangat elitis: kesannya hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang khusus dan terbatas, tidak untuk orang kebanyakan, apalagi untuk orang modern yang selalu sibuk dengan urusan-urusannya. Menurut saya konsep transendensi adalah produk atau, setidak-tidaknya, pengaruh dari perspektif keluasan. Karena kita mengada secara material dalam ruang dunia, maka demi keabadian kita harus mengadakan perjalanan melampaui ruang dunia yang terbatas ini. Dalam perspektif kedalaman konsep trasendensi tidak diperlukan, karena secara ontologis manusia sudah mengada secara “transenden.” Karena alam (physiosphere level 1 dan xe "biosphere"biosphere level 2) adalah bagian dari konstitusi manusia, maka, tentu, ruang (dan waktu) sudah ada di dalam (bukan di luar) diri manusia. Spacio-temporality adalah konsep keluasan, bukan konsep kedalaman. Itulah sebabnya manusia sebenarnya, secara ontologis, sudah transenden. Dengan perspektif ini sekarang problem manusia bisa dirumuskan menjadi begini:  bagaimana agar minimal bisa mempertahankan diri di posisi asali itu dan tidak justru terjatuh ke alam hewani atau lebih rendah dari itu. Dengan kata lain, problem manusia: bukan berkaitan dengan asendensi, tetapi desendensi. Problemnya adalah bagaimana agar manusia selalu menyadari bahwa substansi dirinya tidak sama dengan binatang atau yang lebih rendah dari itu.
Bahasan di atas mengantar kita pada bahasan implikasi ke tiga, yaitu yang berkaitan dengan xe "kesadaran"kesadaran dan aktivitas manusia. Kesadaran akan substansi diri manusia yang bersifat transenden harus secara konsisten tercermin dalam aktivitas kesehariannya. Tantangannya adalah bagaimana kita bisa membuat semua aktivitas keseharian kita menjadi ekspresi autentik dari nilai-nilai kemanusiaan yang sudah transenden itu. Nilai-nilai transenden itu berkaitan dengan kebenaran, kebaikan dan keindahan.
Hidup di dunia modern ini banyak berisi pereduksian terhadap nilai-nilai ini. Inilah dilema dunia modern. Hampir semua orang bermimpi ingin maju, berhasil, bahkan kalau bisa menjadi yang “terbaik.” Untuk itu, konsentrasi, pikiran, waktu dan tenaga kita habiskan untuk mengejar impian impian itu. Saking sibuknya kita dengan aktivitas kemajuan itu kita sering lupa bertanya: kemajuan dan keberhasilan yang kita kejar itu sebenarnya untuk apa dan dalam rangka apa? Apa sebenarnya yang kita maksudkan dengan kemajuan dan keberhasilan itu? Jawaban dari pertanyaan ini mestinya menjadi guidance bagi kita untuk berangkat, untuk memilih jalan mana yang harus kita tempuh (terutama ketika kita mendapati jalan yang mulai bercabang). Tetapi bila pertanyaan ini tidak pernah kita ajukan, maka kemungkinan kita hanya akan memilih jalan yang telah biasa dilalui banyak orang saja. Inilah the xe "unexamined life"unexamined life, yaitu hidup tanpa mawas dan koreksi diri. Jadinya kita berangkat dan pergi bukan karena tujuan yang dituju sudah jelas (kemajuan dan keberhasilan seperti apa yang kita inginkan) tetapi karena kita tidak ingin tertinggal terlalu jauh dari orang lain yang telah berangkat lebih dahulu. Keberhasilan berarti “tidak tertinggal dari orang lain” atau berarti bisa “mendahului/menyalip orang lain yang telah berangkat lebih dahulu”. Di sini ukuran keberhasilan berkaitan dengan jarak antara posisi kita dengan posisi orang lain; siapa yang berada dalam posisi lebih depan (apalagi yang terdepan) itulah yang lebih maju, lebih berhasil. Nilai yang paling krusial di sini berkaitan dengan nilai ruang (di posisi mana kita) dan waktu (seberapa cepat kita berada di posisi itu). Nilai-nilai lainnya berada di bawah nilai ruang dan waktu.
Dunia modern dengan rasionalitas dan xe "mental models"xe "mental models"xe "mental models"mental models ilmiah yang menjadi cirinya  yang paling menonjol adalah sebuah cerita tentang keberhasilan manusia berinteraksi dengan alam physiosphere (A) dan xe "biosphere"biosphere (AB). Karena kedua sphere ini adalah entitas material maka cara kita memahaminya adalah dengan menggunakan dua prinsip utama: distingsi (membuat perbedaan) dan kuantifikasi (sebagai ukuran untuk melihat posisi perbedaan). Kita tidak bisa mengenal atau memahami sesuatu bila kita tidak bisa membedakan sesuatu itu dengan yang lainnya. Seseorang dikatakan tidak mengetahui cangkir kalau ia tidak bisa membedakannya dengan gelas, mangkok dan lain lain. Demikian juga kuantifikasi. Entitas yang kita ketahui adalah entitas yang menempati ruang, dan segala sesuatu yang menempati ruang memiliki ukuran, bentuk, berat dan lain lain yang semuanya bisa didekati secara kuantitatif. Seseorang belum dikatakan memahami sesuatu bila ia tidak mengetahui ciri kuantitatif dari sesuatu itu. Dalam dunia modern, melalui pendidikan, kita membangun xe "mental models"xe "mental models"xe "mental models"mental models berdasarkan dua prinsip ini. Dan celakanya prinsip ini kita gunakan juga waktu berinteraksi di alam xe "noosphere"noosphere (ABC), yaitu ketika berinteraksi bukan dengan alam/obyek tetapi dengan sesama subyek dan juga dengan Tuhan. Yang baik adalah yang unik, yang berbeda dengan yang lain; yang baik adalah yang bisa diukur secara kuantitatif, yang secara kuantitatif berjumlah banyak dan yang secara kuantitatif berbeda dengan yang lainnya.
Berbeda dengan entitas-entitas yang berada pada physiosphere dan xe "biosphere"biosphere, manusia memiliki ciri khusus yang tidak dimiliki oleh yang non-manusia: aktivitas-aktivitas manusia adalah fungsi dari kesadarannya. Karena ciri manusia berkaitan dengan xe "kesadaran"kesadaran (yang bersifat xe "non-material"non-material, ciri C), dan karena semua aktivitas yang bermakna atau tidak bermakna (sesuai cirinya) adalah aktivitas yang lahir dari xe "kesadaran"kesadaran, maka prinsip-prinsip yang mengatur hubungan antar sesama tentu tidak sama dengan prinsip-prinsip yang mengatur hubungan kita dengan alam materi (physiosphere dan xe "biosphere"biosphere, alam A atau AB). Interaksi dengan sesama tidak bisa atau, lebih tepat, tidak mungkin bisa menggunakan pendekatan kognisi tanpa melahirkan distorsi. Bagaimana kita bisa membedakan antara xe "kesadaran"kesadaran kita dengan yang lainnya? Kesadaran bersifat xe "non-material"non-material dan karenannya tidak menempati ruang sebagaimana dunia materi. Oleh karena xe "kesadaran"kesadaran tidak menempati ruang ia tidak memiliki ukuran, tidak memiliki bentuk yang bisa kita identifikasi, dan oleh karenanya kita tidak bisa membuat perbedaan dalam hubungan xe "intersubyektivitas"inter-subyektivitas. Kesamaan semua manusia adalah fakta ontologis, bukan sebuah idealisasi.
Karena aktivitas manusia yang bermakna transenden adalah aktivitas kesadarannya (perbuatan orang gila tidak memiliki implikasi moral) dan karena dunia sosial adalah interaksi antar subyek yang memiliki xe "kesadaran"kesadaran (intersubyektivitas), maka aktivitas manusia yang berkaitan dengan interaksinya dengan sesama memiliki nilai intrinsik lebih tinggi daripada interaksinya dengan alam. Interaksi dengan sesama diperlukan dalam rangka konstitusi diri (xe "self-constitution"self-constitution). Diri tidak akan pernah berkembang normal tanpa interaksi dengan diri lain: to be is to be with. Kesadaran adalah entitas xe "non-material"non-material; interaksi antar xe "kesadaran"kesadaran diatur berdasarkan prinsip xe "non-material"non-material, dan hasil interaksi juga bersifat xe "non-material"non-material (xe "self-consitution"self-consitution).
xe "Aristoteles"xe "Aristoteles"Aristoteles membagi aktivitas manusia menjadi dua: xe "action"xe "action"xe "action"action and xe "production"production. Production adalah aktivitas manusia dalam rangka transformasi obyek dari satu keadaan ke keadaan yang lain. Misalnya aktivitas memahat, melukis, membuat mobil dan lain lain adalah aktivitas produksi yang hasilnya bersifat ekstrinsik: patung, lukisan, dan mobil. Semuanya adalah entitas eksternal yang berada di luar diri subyek. Hubungan antara hasil-hasil produksi dengan subyek bersifat pemilikan, bukan intrinsik yang tidak bisa dipisahkan dengan subyek. Action (tindakan) adalah aktivitas subyek yang berkaitan dengan relasinya dengan subyek lain. Tindakan bersifat moral dan memiliki nilai intrinsik dalam rangka pembentukan diri (xe "self-constituion"self-constitution) dari subyek-subyek yang terlibat dalam interaksi. Dalam dunia modern konsep produksi telah berkembang menjadi konsep “xe "work"work” (kerja) (dan juga “labor”, memburuh) (lihat xe "Hannah Arendt"Hannah Arendt dalam Human conditions,) dan xe "relasi intersubyektivitas"relasi xe "intersubyektivitas"intersubyektivitas berada dalam konteks kerja atau pekerjaan.
Ciri dunia modern adalah penekanannya yang berlebihan pada konsep kerja (xe "work"work), yaitu pada relasi antara subyek dengan obyek untuk mendapatkan hasil-hasil yang bersifat ekstrinsik, kuantitas, dan membedakan. Nilai-nilai turunan dari aktivitas ini adalah efisiensi, profesionalisme, produktivitas, berdaya saing, nilai tambah, dan lain-lain. Karena semua hasil dari aktivitas kerja berkaitan dengan pemilikian obyek konkrit seperti harta maupun abstrak seperti kekuasaan, jabatan, dan bahkan pengetahuan, maka memiliki semua hasil kerja tidak secara langsung terkait dengan kebaikan. Apakah menjadi kaya, memiliki ketenaran, memiliki pengetahuan ilmiah, menjadi pejabat dan yang sejenisnya bisa secara langsung membuat kita menjadi manusia yang lebih baik?
Secara ontologis, misalnya, jabatan (dan banyak status status lainnya) adalah sebuah kategori yang keberadaannya kita (manusia) ciptakan sendiri (ontologically subjective). Dalam skema hierarki di atas, ia termasuk kategori A yang berada pada level satu. Tanpa manusia ia tidak akan pernah ada. Ia kita ciptakan sebagai lapangan permainan kita, bukan sebagai tujuan hidup kita. Kalau ia sebagai tujuan maka itu sama artinya dengan menyamakan diri kita dengan hasil karya kita atau menganggap hasil karya kita nilainya lebih tinggi dari kita (penciptanya). Itulah sebabnya, dalam perspektif agama, jabatan adalah amanah untuk tujuan tujuan yang lebih mulia sesuai martabat kita, bukan sebagai tujuan dalam dirinya. Kalau sebagai tujuan maka penyakit yang pasti kita dapatkan adalah “I’m my position.” “I” adalah subyek, “position” adalah obyek hasil ciptaan kita. Jadi bila subyek sama dengan obyek, maka pasti ini adalah penyakit.
Jabatan berkaitan dengan fungsi, dan fungsi adalah placeholder yang mengacu pada seperangkat aktivitas yang harus dilakukan sesuai tupoksi fungsi. Jadi menerima dan memegang sebuah jabatan tiada lain adalah janji pada publik untuk melaksanakan seluruh aktivitas tersebut dengan sebaik-baiknya. Bila sebuah janji pada seseorang saja tidak selalu kita bisa penuhi, bagaimana dengan janji pada publik untuk melakukan sekian banyak aktivitas, bukan pada suatu waktu, tapi pada durasi waktu selama masa jabatan? Selama ini jabatan banyak dilihat sebagai kata benda, sebagai property, bukan sebagai  kata kerja, sebagai aktivitas. Artinya, jabatan sering dilihat sebagai pemilikan, sehingga relasinya adalah relasi subyek-obyek. Sebagai obyek kepemilikan, jabatan menjadi obyek buruan, yang kalau mendapatkannya maka dianggap sukses, berhasil, dan kalau tidak dianggap gagal, dan melahirkan rasa frustasi atau perlu dikasihani.         
Jabatan dalam artian aktivitas terkait dengan relasi subyek subyek, oleh karenanya berkaitan dengan tindakan, dengan aktivitas, bukan dengan kepemilikan, dan bukan juga dengan hak istimewa. Itulah sebabnya dari perspektif pengamat jabatan adalah amanah, dan dari perspektif pelaku ia adalah janji, bahkan lebih berat lagi: sumpah! Inheren dalam jabatan adalah xe "deontisitas"deontisitas, komitmen untuk berbuat, dan berbuat. Belajar menjadi amanah bukan dengan cara menghafal dan memahami apa itu amanah, tetapi dengan cara belajar menjalankan amanah. Untuk bisa menjalankan pembelajaran ini, kita tentu harus dalam posisi sedang dalam ‘memiliki’ jabatan tertentu, sebagai sasana pembelajaran. Tanpa ini, pembelajaran akan bersifat kognitif semata.
Secara horizontal dunia kebaikan berkaitan dengan tindakan (xe "action"xe "action"xe "action"action) yang konteksnya selalu bersifat intersubyektif. Orang yang baik adalah orang yang tindakan-tindakannya terhadap sesama adalah baik. Di sini hasil tindakanya adalah intrinsik, yaitu untuk kebaikan diri. Nilainya melampaui nilai kosmos, bahkan nilai xe "makrokosmos"xe "makrokosmos"xe "makrokosmos"makrokosmos. Kenapa? Karena tindakan yang baik itu tidak didapatkan dalan relasi internal ABC. Ia adalah fungsi dari relasi antar ABC, yaitu relasi antar makro-kosmos! Dalam konteks tindakan, konsep keberhasilan dan kemajuan (apalagi keberhasilan menjadi yang terbaik) tidak bisa diukur sendiri berdasarkan ukuran-ukuran kuantitatif, tetapi kemajuan itu dirasakan oleh orang lain sehingga hubungan antar sesama terasa semakin saling berterima (xe "mutual acceptance"mutual acceptance) dan semakin tidak bersyarat. Dan ini adalah contoh ekspresi otentik dari dunia transenden yang diekspresikan dalam dunia tindakan. Perspektif kedalaman melihat aktivitas manusia yang baik bukan sebagai proses transendensi, tetapi sebagai ekspresi dari aktivitas subyek yang secara ontologis sudah transenden dan yang tidak atau belum terdistorsi.

Sebagai contoh kecil. Bandingkan dua aktivitas berikut. Ibu saya meminta saya memandikan adik sebelum saya berangkat ke kantor. Tetapi kalau saya mematuhi ibu saya akan terlambat masuk kerja. Apa pilihan saya? Dalam perspektif kedalaman, mematuhi perintah adalah aktivitas (xe "action"xe "action"xe "action"action) yang langsung berkaitan dengan nilai kebaikan yang berada dalam konteks xe "relasi intersubyektivitas"relasi xe "intersubyektivitas"intersubyektivitas, nilai yang melampaui nilai kosmik. Mengabaikan permintaan Ibu karena motif memburu karir dan nama baik di kantor yang sering sepenuhnya berkaitan dengan pekerjaan (xe "work"work) tidak otomatis bisa melahirkan kebaikan baik untuk diri  maupun orang lain. Melalaikan yang pertama (xe "action"xe "action"xe "action"action) demi yang kedua (xe "work"work) adalah akibat dari xe "unexamined life"unexamined life dan hasil dari xe "mental models"xe "mental models"xe "mental models"mental models kehidupan dunia modern yang menggunakan perspektif keluasan. Menjadi baik mestinya lebih mudah dan bisa dimulai dari rumah, tapi ini hanya bisa dilakukan bila xe "mental models"xe "mental models"xe "mental models"mental models modernitas harus dirubah sedemikian rupa sehingga kita bisa melihat nilai tindakan (xe "relasi intersubyektivitas"relasi xe "intersubyektivitas"intersubyektivitas) selalu memiliki nilai lebih tinggi dari nilai kerja (relasi subyek-obyek), atau bisa melihat kerja dan hasil-hasilnya adalah dalam rangka xe "intersubyektivitas"intersubyektivitas, yaitu dalam rangka kemanusiaan, bukan dalam rangka subyektivitas semata.
     
      Baca Selengkapnya »      

Kamis, 18 Mei 2017

Problem Pembelajaran Hati


Problem Pembelajaran Hati

Oleh: Dr. M. Husni Muadz




Sekarang ini pembelajaran praksis (termasuk pembelajaran hati) agaknya telah direduksi menjadi bagian dari pembelajaran kognitif. Akibatnya kita dilatih hanya menjadi pengamat (observers), bukan menjadi pelaku atau partisipan dalam kehidupan sosial. Bahkan ada anggapan umum bahwa persoalan-persoalan yang terkait dengan masalah-masalah sosial yang terjadi di masyarakat adalah urusan dan tanggung jawab pemerintah. Pandangan yang seperti ini, sekalipun sepenuhnya tidak salah, justru akan menjauhkan kita dari pembelajaran praksis yang menjadi kewajiban semua orang. Inilah salah satu tantangan pembelajaran rekognitif. Karena kita tidak memiliki pembelajaran praksis secara terstruktur seperti intership di bidang kedokteran, misalnya, dan dibiarkan menjadi urusan pribadi masing-masing, maka kita menghadapi banyak problem sosial yang tidak bisa kita atasi sekarang ini. Semua ini disebabkan karena masing-masing kita tidak memiliki the practical competence yang memadai untuk bisa berbuat yang semestinya.



Tradisi pembelajaran praksis selama ini masih terabaikan. Pembelajaran sekarang didominasi oleh pembelajaran di ranah kognitif. Ini melahirkan cara hidup individualis yang melihat orang lain sebagai obyek. Akibat dominannya xe "kesadaran"xe "kesadaran kognitif"kesadaran kognitif ini, kita seringkali menggunakan xe "kesadaran"xe "kesadaran kognitif"kesadaran kognitif untuk urusan-urusan yang bersifat rekognitif dan trans-(re)kognitif. Kecendrungan ini dimulai sejak Ilmu pengetahuan modern, yang dimulai sejak kira-kira 400 tahun yang lalu, dengan metodologi empiriknya mendapatkan kemajuan yang pesat dan mempengaruhi hampir segala sendi kehidupan, termasuk kehidupan pembelajaran. Lalu pelan-pelan persoalan-persoalan rekognitif direduksi ke dalamnya, dan cara pembelajarannya juga sama dengan pembelajaran kognitif. Recognive xe "learning"learning telah direduksi menjadi xe "cognitive learning"cognitive xe "learning"learning. Ini tidak terjadi sebelumnya. Jadi, ada asumsi kuat bahwa untuk menjadi baik cukup mengetahui tentang kebaikan. Padahal xe "kesadaran"kesadaran yang harus dibangun berbeda, cara pembelajarannya juga berbeda. Kita tidak mungkin bisa melakukan sesuatu secara benar bila kita tidak mengetahui mana yang baik dan mana yang tidak. Jadi di sini ada elemen kognitifnya juga. Tapi persoalan bagaimana membangun xe "kesadaran"kesadaran dan bagaimana pembelajaran praksis (xe "recognitive attitudes"xe "recognitive attitudes"recognitive attitudes) tentu tidak diakomodir di dalam seting pembelajaran kognitif. Apalagi tuntutan-tuntutan pembelajaran yang bersifat masif, mahasiswanya banyak, siswanya banyak, alat-alat ukur dengan ukuran-ukuran obyektif menjadi berkembang, sehingga yang umum dan mudah diukur adalah hal-hal yang bersifat kuantitatif. Sementara hampir semua yang berkaitan dengan isu rekognitif tidak bisa diukur dengan menggunakan ukuran kuantitatif. Jika jarak obyek bisa kita ukur dengan meter, kilo atau mil, misalnya, bagaimana dengan kebahagiaan dan kebencian? Lalu dibuatkan alat kuantifikasi dan skala supaya ada ancang-ancang untuk mengukurnya. Jadi, secara perlahan-lahan persoalan rekognitif dilihat sebagai persoalan kognitif.



Jadi kalau kita menggunakan kerangka berpikir bahwa manusia itu mengada dengan tiga relasi, relasi subyek-obyek yang memerlukan xe "kesadaran"xe "kesadaran kognitif"kesadaran kognitif, relasi subyek-subyek yang memerlukan xe "kesadaran rekognitif"xe "kesadaran"xe "kesadaran rekognitif"kesadaran rekognitif, dan relasi subyek-Subyek yang memerlukan xe "kesadaran"kesadaran xe "trans-(re)kognitif"trans-(re)kognitif, maka agar kita berhasil membangun tiga relasi ini, kita memerlukan institusi pembelajaran dan prinsip-prinsip pembelajaran yang sesuai dengan masing-masing relasi. Di sinilah problemnya, sebagaimana telah kita singgung di depan: Institusi pembelajaran praksis dan elemen konstitutifnya belum teridentifikasi dengan memadai. Kita berharap rumah tangga sebagai intitusi awal anak bisa belajar pembelajaran rpraksis, tapi rumah tangga sendiri datang dan belajar di mana? Kita berharap bisa belajar di masyarakat, tetapi pertanyaannya sama: masyarakat sekarang ini belajar xe "kesadaran rekognitif"xe "kesadaran"xe "kesadaran rekognitif"kesadaran praksis di mana? Kita sudah terlalu lama tidak menyadari bahwa perlu ada pembelajaran praksis; kita menganggap bahwa pembelajaran apapun bisa didapat dengan cara yang sama, yaitu pendekatan kognitif. Akibatnya kita secara kolektif kurang memiliki kecerdasan praksis sesuai nilai nilai yang diidealkan dalam teori di ranah kognitif. Berikut kita akan mengelaborasi apa perbedaan konsep praksis dan konsep kognitif. Perbandingan keduanya diperlukan untuk membantu mempertajam pemahaman.



Perlu diingat bahwa pengalaman kita tentang obyek bukanlah pengalaman langsung, tetapi pengalaman yang dimediasi melalui gambaran tentang obyek tersebut yang ada di kepala kita. Kita tidak masuk ke dalam obyek itu ketika kita berinteraksi; kita bukan bagian dari molekul-molekul, bukan juga bagian dari atom-atomnya. Kita ada di luar, menjadi pengamatnya. Jadi gambaran tentang obyek itu lah yang muncul di kepala kita dalam bentuk konsep, dalam bentuk pikiran yang disimpan dalam ingatan, sehingga dia menjadi kognitif. Waktu kita memperhatikan obyek dengan indera kita, obyek itu masuk di kepala kita, membentuk gambaran/image, konsep, xe "mental models"xe "mental models"xe "mental models"mental models di kepala kita yang kemudian kita simpan dalam ingatan kita. Ketika nanti kita melihat obyek itu lagi atau ingin menggunakannya, kita mengeceknya dengan apa yang tersimpan di memori atau ingatan kita. Jadi kita mengenali kembali obyek dengan cara seperti itu. Tanpa representasi obyek seperti ini kita tidak bisa berbicara tentang kebenaran. Ketika kita berbicara tentang kebenaran akan sesuatu, yang kita bicarakan sebenarnya adalah adanya kesesuaian antara gambaran yang ada di kepala dengan realitas obyek yang kita lihat. Jadi ada semacam korespondensi antara dunia realita dengan apa yang digambarkan di dalam kepala kita. Bila gambaran itu sesuai, kita menyebutnya benar, bila tidak kita menyebutnya salah.



Obyek terdiri atas dua jenis: xe "obyek alami"obyek alami dan obyek sosial. Obyek alami adalah obyek yang kehadiran dan keberadaannya tidak tergantung pada keberadaan kita sebagai subyek. Sebagai contoh gunung Rinjani. Keberadaan gunung ini tidak ada kaitannya dengan orang-orang yang ada di Lombok. Secara ontologis dia tetap ada, sekalipun misalnya semua orang yang di Lombok tidak pernah ada. Berbeda dengan obyek alami, obyek sosial secara ontologism bersifat subyektif. Obyek sosial, yaitu semua artefak ciptaan manusia, tidak akan pernah ada bila tidak ada subyek yang mengadakannya. Keberadaan atau kelahiran obyek sosial selalu terkait dengan kita sebagai manusia. Misalnya, pecahan uang 1000 rupiah sebagai contoh. Uang ini memiliki nilai 1000 rupiah tidak ada kaitannya dengan nilai intrinsik dari bahan material uang tersebut dibuat. Bendanya sendiri adalah benda fisik. Yang membuat dan mengakuinya ada sebagai uang adalah kita sebagai subyek. Kalau kita sama-sama tidak mengakuinya sebagai uang, maka uang 1000 rupiah tidak akan pernah berfungsi sebagai uang. Tidak ada dari faktor instrinsik/dari barang kertas dari uang itu yang membuatnya menjadi uang. Uang adalah artefak yang dibuat dan harus diakui subyek. Sekarang ada entitas yang kita sebut cek. Cek itu bentuknya lain, tapi karena semua mengakuinya ada maka cek tersebut bisa berfungsi menggantikan fungsi uang. Hal yang sama juga terjadi pada kartu kredit, travel check, dan lain lain. Semua ini adalah obyek sosial. Jadi obyek sosial sangat banyak, dan keberadaannya tergantung dari keberadaan subyek. Dengan kata lain obyek sosial ada karena kita mengadakannya, atau menganggap dan mengakuinya ada. Bila kita berhenti mengakuinya ada, maka ia menjadi tidak ada.



Kembali ke topik kita sebelumnya. Kognisi adalah bagian dari xe "kesadaran"kesadaran yang khusus berlaku ketika kita berinteraksi dengan obyek, obyek alam atau obyek sosial. Pertanyaannya adalah bisakah kita melihat subyek seperti kita melihat obyek, atau bisakah kita memahami subyek dengan cara yang sama dengan cara kita memahami xe "kesadaran"obyek? Filosof xe "Thoman Nagel"xe "Thoman Nagel"Thoman Nagel pernah bertanya: bagaimana rasanya menjadi kelelawar? Para ahli binatang bisa berbicara panjang lebar tentang perilaku kelelawar, dari waktu bangun sampai tidur, tetapi mereka tidak bisa menggambarkan bagaimana rasanya menjadi kelelawar. Terhadap manusia, kita bisa bertanya dengan pertanyaan serupa: bagaimana rasanya menjadi subyek lain? Para ahli syaraf, sebagaimana para ahli binatang, tidak mampu menjawab pertanyaan ini dengan memuaskan. Mereka dengan fakultas kognisi tidak bisa memahami apa yang dirasakan dan dialami oleh subyek lain. Yang bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi subyek adalah subyek itu sendiri yang ia alaminya secara subyektif. Pengalaman inilah yang tidak bisa diakses dan dipahami oleh pengamat bila melihat subyekxe "kesadaran" sebagai obyek. Karena setiap subyek memiliki xe "kesadaran"kesadaran, dan memiliki pengalaman interioritas yang hanya bisa diakses oleh dirinya secara subyektif, maka keunikan inilah yang yang harus diakui (xe "recognize"recognize) dalam hubungan xe "intersubyektivitas"intersubyektivitas. Karena internal properties dari subyek adalah sama, maka kesamaan inilah yang harus diakui dan dihargai oleh setiap subyek ketika mengadakan relasi dengan subyek lain. Memahami subyek dengan pendekatan kognitif sama dengan membangun xe "kesadaran"kesadaran relasi subyek-obyek dengan subyek. Dimensi interioritas subyek akan hilang bila perspektif ini yang kita gunakan.



Jadi kalau kita menggunakan xe "kesadaran"xe "kesadaran kognitif"kesadaran kognitif dalam memahami subyek, kita tidak akan pernah sampai pada pemahaman yang kita inginkan. Problem yang dihadapi oleh para filosof ketika mencoba melihat xe "kesadaran"kesadaran atau jiwa sebagai obyek kajiannya telah sampai pada jalan buntu. Tapi ini masih problemnya mereka, problem yang lebih serius akan muncul bila xe "kesadaran"xe "kesadaran kognitif"kesadaran kognitif digunakan dalam hubungan sehari-hari kita dengan orang lain. Serius karena hubungan kita dengan sesama tidak akan pernah saling berterima dan tidak akan pernah autentik, karena kita berhubungan dengan orang lain bukan sebagai subyek tetapi sebagai obyek. Bila xe "kesadaran"xe "kesadaran kognitif"kesadaran kognitif yang beroperasi waktu berhubungan dengan sesama, maka orang lain pasti akan dilihat sebagai instrumen, sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan dan kepentingan diri. Yang terjadi adalah pertama-tama ada xe "proses obyektifikasi"xe "proses obyektifikasi subyek"proses obyektifikasi subyek dengan cara penghilangan dimensi dalam (xe "interior dimension"interior dimension) dari subyek, karena xe "kesadaran"xe "kesadaran kognitif"kesadaran kognitif hanya mampu melihat dimensi luar (xe "exterior dimension"exterior dimension) dari subyek. Akibat dari penghilangan ini, yang dapat kita lihat dari orang lain hanya atribut luarnya saja: seperti status, kekayaan, ketampanan atau tampilan fisik dan lain-lain. Semua ini adalah properties yang dimiliki oleh subyek, tapi properties tidak identik dengan subyek. Badan saya tidak sama dengan saya dan jabatan saya tidak juga sama dengan saya.



Akibat dari kesalahan ini sangat luar biasa. Tatkala kita melihat orang berdasarkan status yang dimiliki, perilaku kita akan berubah sesuai dengan asesmen kita terhadap status itu. Misalnya, bila melihat orang lain memiliki status yang lebih tinggi dari kita, maka sikap kita akan berbeda dengan, misalnya, kita melihat orang lain yang memiliki status sosial yang lebih rendah. Ini disebabkan karena tatkala kita melihat satus orang lain, sebenarnya kita membandingkannya dengan status yang kita miliki. Melihat dimensi luar dari subyek melibatkan proses pembandingan seperti ini. Karena fungsi dan status masing-masing orang tidak sama, maka hasil pembandingan itu akan melahirkan xe "kesadaran"kesadaran bahwa status kita bisa lebih tinggi, atau lebih rendah. Kesadaran yang terbangun di sini adalah kesedaran kognitif, dimana terjadi proses meninggikan orang (dan merendahkan diri) dan merendahkan orang (dan meninggikan diri. Di sini, subyek, diri maupun orang lain, dilihat sebagai seolah-olah obyek. Subyek direduksi menjadi identik dengan external properties yang dimiliki. Karena kita melihatnya seperti itu, maka perilaku kita kita sesuaikan dengan cara pandang ini. Jadi menggunakan xe "kesadaran"xe "kesadaran kognitif"kesadaran kognitif ketika berhubungan dengan orang lain akan melahirkan hasil pengelihatan bahwa orang lain adalah obyek dan diri kita adalah juga obyek.



Ketika kita melihat orang lain sebagai obyek atau melihat atribut obyektif yang melekat pada dirinya sebagai yang penting, maka kita sebenarnya sekaligus juga sedang melihat diri sebagai obyek juga. Ada xe "proses obyektifikasi"proses obyektifikasi dari diri sedang terjadi. Memberikan penilaian terhadap orang lain dengan status lebih tinggi, dalam waktu yang bersamaan kita juga sedang menilai diri relatif terhadap status yang dimiliki orang itu, yaitu status kita lebih rendah. Hasilnya, kita akan melihat orang lain sama, atau lebih rendah atau lebih tinggi. Lalu perilaku kita akan mengikuti sesuai dengan hasil penilaian, sesuai hasil obyektifikasi itu. Akibatnya, kualitas relasi subyek-subyek tidak otentik karena interaksi dibangun berdasarkan dimensi eksternal subyek saja. Di sinilah proses penghinaan kemanusiaan mulai terjadi karena kita melihat subyek menjadi sekedar instrumen dari evaluasi kita. Relasi antar subyek menjadi tidak normal, tidak sejajar karena hubungan antar subyek dibangun berdasarkan perbedaan harga (importance)xe "kesadaran rekognitif"xe "kesadaran"xe "kesadaran rekognitif". Ini adalah patologi hubungan dan merupakan problem serius yang kita hadapi sekarang ini. Kita memberi penghargaan yang berlebihan pada orang lain atau pada diri kita, kita merendahkan diri atau merendahkan orang lain secara berlebihan. Hubungan kita dengan sesama adalah hubungan status. Sekarang ini umum kita alami bahwa ketika kita menjadi penjabat, misalnya, kita memiliki banyak teman, tetapi begitu kita berhenti menjadi penjabat kita kehilangan banyak teman. Ini karena hubungan yang terbangun selama ini tidak otentik berdasarkan relasi intersubyektivitas dengan harkat dan martabat yang sama (lihat apendiks A).



Jadi program pembelajarannya adalah bagaimana mengurangi dominasi xe "kesadaran"xe "kesadaran kognitif"kesadaran kognitif dalam interaksi antar subyek. Saya kira kerangka tiga relasi subyek dengan tiga tipe xe "kesadaran"kesadaran di atas membantu kita melihat peta persoalan kemanusiaan dengan lebih jelas. Bila kita berurusan dengan sesama, xe "kesadaran"kesadaran yang dibangun pertama-tama adalah xe "kesadaran rekognitif"xe "kesadaran"xe "kesadaran rekognitif"kesadaran rekognitif, xe "kesadaran"kesadaran bahwa kita sedang berada dalam relasi antar subyek. xe "Kesadaran kognitif"Kesadaran kognitif digunakan untuk membantu xe "kesadaran rekognitif"xe "kesadaran"xe "kesadaran rekognitif"kesadaran intersubyektif, atau kesadaran rekognitif. xe "Kesadaran kognitif"Kesadaran kognitif dalam konteks xe "intersubyektivitas"intersubyektivitas harus bersifat komplementer, untuk membantu keberhasilan relasi subyek-subyek, bukan untuk mendominasi, apalagi merusaknya. Karena cara pandang seperti ini belum kita miliki sebagai kolektivitas, maka pembelajaran praksis xe "recognitive learning"xe "recognitive learning"menjadi penting. Agar bisa mengatasi persoalan isu-isu intersubyektif seperti bagaimana membangun kerjasama sosial, bagaimana meminimalisir konflik, bagaimana membangun sinergi sosial, bagaimana membangun sikap kasih sayang, tolong menolong, dan lain lain harus ada pembelajaran yang berkaitan dengan bagaimana kita melahirkan xe "kesadaran rekognitif"xe "kesadaran"xe "kesadaran rekognitif"kesadaran intersubyektif. Karena di sini fakultas kognisi tidak bisa digunakan sepenuhnya, maka fakultas lain yang kita perlukan adalah fakultas hati. Jadi fakultasnya berbeda: otak untuk berhubungan dengan obyek dan hati untuk berhubungan dengan sesama subyek. Karena dimensi xe "non-material"non-material dari subyek adalah xe "kesadaran"kesadaran atau jiwa maka subyek hanya bisa didekati dengan hati, dengan rasa. Hati mengenal dan mengakui keberadaan subyek, dan merasakan secara langsung kehadirannya. Dimensi xe "non-material"non-material setiap subyek adalah sama, yaitu sama-sama memiliki interiority, dan konstitusi yang membentuk lahirnya xe "kesadaran"kesadaran juga sama. Ini berarti di level ontologi semua subyek adalah sama, yang berbeda hanya properties, yaitu dimensi eksterior (apa yang dimiliki oleh subyek) dari subyek. Pada level dalam, esensi dari subyek semua orang adalah sama, dan sejajar. Itulah sebabnya semua orang berharap bisa diperlakukan sama atau sejajar. Esensi ini harus kita kenali, akui dan hargai ada pada orang lain, dan juga ada pada diri kita. Semua nilai sosial seperti keadilan harus diturunkan dari konsep kesamaan azali ini, sebagaimana nanti kita elaborasi dalam pembahasan tentang xe "dialog"xe "dialog"dialog pada bab yang akan datang. Tetapi semua ini hanya mungkin bila kita menggunakan pendekatan rekognitif, pendekatan hati, dan bukan dengan pendekatan kognisi.



xe "Kesadaran kognitif"Kesadaran kognitif dalam relasi subyek-subyek akan melahirkan tuntutan ketundukan dari orang lain pada kita, seperti ketundukan obyek pada kita. Kita bisa perlakukan obyek sekendak kita, dan ia tidak akan protes, seperti mobil yang kita gunakan sampai rusak tidak akan protes. Itulah obyek. Kita tidak bisa memperlakukan subyek dengan cara yang sama seperti ini, karena dimensi interioritas subyek akan bereaksi bila disentuh: ia akan merasa diperlakukan tidak adil. Di level nurani yang dalam dia akan memberontak, bahwa ada sesuatu yang tidak fair atau tidak adil yang ia rasakan. Oleh karenanya pendekatan hatilah yang bisa memahami ini, yaitu hanya dengan hati kita bisa menyadari akan adanya kesamaan dasar kemanusiaan. Kesadaran rekognitif berkaitan dengan kearifan. Kebutuhan-kebutuhan dasar di level nurani adalah sama dan bersifat interinsik.



Salah satu kebutuhan intrinsik dari subyek adalah kebutuhan untuk mengadakan relasi dengan orang lain. Subyek akan merana bila hidup sendirian. Di surgapun dulu Nabi Adam tidak sanggup melakukannya; karena tidak sanggup hidup sendiri, beliau memohon pada Tuhan agar mendapatkan pendamping. Jadi kebutuhan intrinsik subyek, sebagai kebutuhan jiwa (nurani), adalah memiliki hubungan normal terus menerus dengan subyek lain. xe "Daniel Coleman"Daniel Coleman dalam “xe "Social Intelligence"Sosial Intelligence”nya mengatakan bahwa hubungan sosial atau hubungan xe "intersubyektivitas" intersubyektivitas memiliki pengaruh terhadap kesehatan tubuh. Kalau ada hubungan kita dengan sesama yang terganggu maka akan berpengaruh terhadap imunitas. Sebaliknya bila interaksi dengan sesama normal, maka tubuh kita akan menjadi sehat. Ini sejalan dengan ajaran agama bahwa silaturahim membuat umur menjadi lebih panjang. Kajian-kajian yang berkaitan dengan xe "social brain"xe "social brain"sosial brain baru dimulai beberapa dekade terakhir. Tahun 2000 adalah konferensi internasional pertama tentang sosial brain yang melihat hubungan antara xe "intersubyektivitas"intersubyektivitas dan biologi. Semua jenis interaksi yang bukan intrinsik akan melahirkan hubungan yang sakit, tidak hanya secara sosial tapi juga secara biologis. Oleh karenanya adalah kebutuhan intrinsik setiap subyek untuk mulai membangun pembelajaran hati (pembelajaran rekognitif) dengan lebih sungguh-sungguh.



Karena masing-masing orang memiliki harga dan nilai kemanusian yang sama, maka setiap tindakan yang terkait dengan orang lain tidak bisa dikontrol secara sepihak. Setiap tindakan yang menyangkut subyek lain harus lahir berdasarkan prinsip konsensualitas, harus berdasarkan persetujuan, harus dibangun berdasarkan kesepakatan yang tulus dari masing-masing subyek. Tidak ada cara lain kita berhubungan dengan sesama kecuali melalui prinsip konsensualitas yang mengandaikan bahwa kita adalah sejajar, dan bahwa masing kita memiliki nilai intrinsik yang sama. Ini berbeda dengan interaksi antar-obyek (inter-obyektivitas). Inter-obyektivitas bekerja berdasarkan xe "hukum kausalitas"hukum kausalitas, yaitu sesuatu terjadi disebabkan sesuatu yang lain. Karena relasi subyek-subyek bukan relasi benda dengan benda, tapi relasi antar dua atau lebih entitas xe "kesadaran"kesadaran, maka relasi sosial yang sehat terbangun hanya melalui persetujuan antar semua subyek yang terlibat.



Pembelajarannya adalah bagaimana agar kita selalu sadar bahwa semua subyek, siapapun dia, memiliki kebutuhan sesuai esensi interior yang sama. Ini artinya kebutuhan dasar masing-masing adalah sama, termasuk kebutuhan untuk membangun hubungan intersubyektivitas. Kalau xe "kesadaran"kesadaran ini ada, maka hubungan akan bersifat mutual atau akan lahir proses mutual yang di dalamnya berlangsung proses dialogis, dimana masing-masing orang adalah partisipan, dan tidak ada yang berfungsi sebagai xe "observer"observer. Karena xe "intersubyektivitas" intersubyektivitas adalah intrinsik maka efek relasinya adalah menyatukan, yang akan melahirkan efek kesatuan kemanusiaan. Dalam konteks inilah nilai-nilai seperti empati, kasih sayang, respek dan lain-lain bisa kita pahami dengan lebih baik. Empati, kepedulian terhadap sesama, adalah intrinsik karena xe "intersubyektivitas"intersubyektivitas adalah intrinsik. Empati atau kasih sayang akan menjadi nilai yang asing bila hubungan xe "intersubyektivitas"intersubyektivitas bukan kebutuhan intrinsik. Ciri dari xe "intersubyektivitas"intersubyektivitas yang intrinsik adalah melihat hubungan itu sendiri sebagai tujuan, bukan sebagai sarana untuk tujuan lain. Jadi bila xe "intersubyektivitas"intersubyektivitas (silaturrahim) menjadi tujuan di dalam dirinya maka semua nilai-nilai dan tindakan-xe "tindakan sosial"tindakan sosial bertujuan untuk memenuhi kebutuhan intrinsik xe "intersubyektivitas"intersubyektivitas tersebut.



Kognisi tidak mungkin bisa berkembang secara optimal tanpa berada dalam setting intersubyektif. Sebagai contoh, pada tahun 30-an ditemukan dua orang anak yang dibesarkan oleh serigala di India, yang seorang umurnya 8 tahun, yang lainnya 7 tahun. Saat ditemukan ke dua anak tersebut tidak bisa berbicara. Mereka juga tidak bisa berdiri. Kemampuan kognitif mereka tidak berkembang. Sebabnya adalah karena mereka tidak tumbuh dan berkembang dalam konteks intersubyektivitas. Sepuluh tahun kemudian, salah satu di antara mereka yang masih hidup bahkan tidak mampu berbahasa. Ekspresi wajah anak itu tetap dingin, tidak memiliki tanda-tanda yang normal yang mengekspresikan adanya kemampuan membangun hubungan intersubyektif. Ini disebabkan karena ia dari sejak awal tidak dibesarkan dalam konteks hubungan sosial yang normal. Setting pembelajaran yang hilang adalah xe "intersubyektivitas"intersubyektivitas.



Jadi sekalipun dari awal kita berbicara tentang relasi subyek-obyek, sebenarnya sebagian besar konteksnya adalah intersubyektif. Sebagian besar relasi subyek-obyek adalah xe "second-order"xe "second-order intersubjectivity"second-order xe "intersubjectivity"intersubjectivity. Di level ini tujuan interaksi adalah dalam rangka mencari kebenaran intersubyektif. Di atas telah dikatakan bahwa salah satu tujuan dari relasi subyek-obyek adalah untuk mendapatkan pengetahuan tentang obyek dan inti dari pengetahuan adalah kebenaran. Sekarang, relasi antar-subyek di level xe "second-order"second-order akan berkaitan dengan komunikasi tentang sesuatu, tentang kebenaran sebuah obyek. Prinsip komunikasi yang konsisten dengan xe "first-order intersubjectivity"first-order xe "intersubjectivity"intersubjectivity adalah apabila masing-masing partisipan bertujuan mencari kebenaran intersubyektif, yaitu kebenaran yang lebih tinggi dari yang dimiliki secara subyektif oleh masing-masing subyek. Jadi sekalipun relasinya bersifat kognitif xe "second-order" untuk mencari kebenaran obyek, kebenaran yang dituju adalah kebenaran yang lebih tinggi yaitu kebenaran intersubyektif. Tetapi kebenaran intersubyektif bukanlah tujuan utama interaksi antar-subyek. Yang membuat hubungan bisa melahirkan rasa persatuan bukan karena adanya kesatuan dalam cara kita melihat obyek saja; yang membuat kita bersatu adalah adanya pertemuan xe "intersubyektivitas"intersubyektivitas, bukan pertemuan pikiran saja. Pemahaman bahwa semua manusia adalah bersaudara, tidak cukup untuk melahirkan praktik hidup yang saling berterima. Ia hanya bisa membantu memperkuat, tapi yang membentuk kesatuan itu adalah kalau ada hubungan interaksi antar hati. Elemen konstitutif xe "sistem sosial"sistem sosial berbeda dengan elemen konstitutif sistem pengetahuan. Tapi adanya kesamaan sudut pandang secara kognitif bisa memperkuat hubungan intersubyektif.



Pertanyaanya: Dari mana kita memulai pembelajaran hati dan apa institusi pembelajaran yang di dalamnya kita berlatih dengan memadai? Jawaban dari pertanyaan ini tidak mudah dan hingga saat ini belum ada yang memuaskan. Dalam bab berikut kita mencoba menemukan jawaban berdasarkan arahan dari dimensi normativitas dari bahasa. Karena kegiatan berbahasa adalah aktivitas menggunakan simbol untuk mengeksternal apa yang ada di dalam hati dan pikiran, maka maka usaha pencarian prinsip prinsip pembelajaran hati (termasuk kemungkinan untuk mendapatkan istitusi pembelajarannya) di institusi bahasa tidaklah berlebihan (off-base), sebagaimana akan kita lihat. Akan tetapi terlebih dahulu akan dibahas tentang nilai manusia, dibandingkan dengan makhluk lainnya di jagad raya ini. Kesadaran akan nilai manusia akan memberikan pengaruh terhadap cara kita melihat dan bersikap terhadap sesama.





     
      Baca Selengkapnya »      

Selasa, 09 Mei 2017

Pedagogi Hati: Praktek Positivitas Dalam Perjumpaan



Pedagogi Hati: Praktek Positivitas Dalam Perjumpaan

Oleh: Dr. M. Husni Muadz




Pengetahuan kehidupan (practical knowledge), seperti agama, moral, politik, ekonomi, dan lain lain, memiliki dua dimensi: teoritis dan praksis. Yang satu berkaitan dengan "apa" dan berada di ranah kognitif dan bersifat abstrak, dan yang lainnya berkaitan dengan "bagaimana", dan berada di ranah tindakan dan bersifat konkrit. Ke duanya mestinya adalah satu kesatuan yang menyatu dalam sirkulaitas kehidupan: yang satu adalah pedoman cara hidup tertentu dan yang lainnya adalah praktik hidup sesuai pedoman.

Tapi dalam realita perhatian lebih banyak diberikan pada dimensi kognitif dari practical knowledge, yaitu pada dimensi "what"nya atau pada isi pedoman (manual) dari pada dimensi "how" nya, atau dimensi praksisnya. Pembelajaran atau praktek dimensi ini, agaknya, belum terancang secara sungguh sungguh dan bahkan diserahkan menjadi tanggung jawab individu masing masing, bukannya terstruktur dan terinstitusi seperti pada pembelajaran dimensi kognitif. Akibatnya, banyak nilai nilai etika dan spiritualitas tidak hidup dan manifes dalam tindakan kolektif komunitas karena mereka hanya ada dan tersimpan dengan baik dalam memori.

Cara belajar mono dimensi seperti di atas agaknya dipengaruhi oleh cara belajar dalam ilmu ilmu murni (pure sciences) seperti astronomi, fisika, kimia dan sejenisnya. Ini juga sebagian berlaku untuk teknologi. Seorang Habibi, misalnya, terkenal ahli dalam merancang dan membuat pesawat modern super canggih. Tapi dalam hal praktik? Ia tidak kualifait bahkan tidak mampu menerbangkan pesawat! Dan untuk bidang ini memang tidak ada tuntutan untuk harus bisa melakukannya.

Tetapi untuk bidang humaniora kompetensi praksis menjadi imperatif yang tidak bisa ditawar. Ini analog dengan profesi tari atau renang. Bila ingin menjadi penari atau perenang, maka paket pembelajaran yang terkait dengan latihan tari atau renang menjadi bagian wajib dalam kurikulum, disamping tentu yang terkait dengan dimensi teoritiknya.

Untuk ilmu ilmu permainan seperti ini kita mampu melihat betapa pentingnya pembelajaran praktek sebagai syarat keberhasilan, kenapa kita abai melihat hal yang sama dalam pembelajaran hidup yang lebih serius seperti pembelajaran moralitas dan etika, misalnya? Something is missing here: pembelajaran praksis hidup tidak bisa diserahkan menjadi urusan masing masing individu, seperti yang diasumsikan selama ini.

Model pembelajaran praksis harus mampu memberikan ruang pembelajaran (praktek) terus menerus. Kenapa? Karena tindakan tindakan manusia bukan mekanis mengikuti prinsip kausalitas, melainkan bersifat intensional yang memerlukan kesadaran terus menerus untuk mempraktikkan nilai nilai yang diperlukan setelah kondisi keberlakuannya memenuhi syarat. Lalai adalah lawan dari sadar, dan melawan kelalaian memerlukan pembelajaran sadar bersama terus menerus.

Kerangka pembelajaran yang ditawarkan mengharuskan pembelajaran terjadi dan berlansung secara kolektif (tim). Pembelajaran bersama bukan saja akan lebih menjamin efektivitas pembelajaran, tetapi juga karena pembelajaran praksis bersifat relasional yang mengandaikan adanya orang lain sebagai parner pembelajaran. Pembelajaran berjamaah memberikan ruang terjadinya proses saling mengingatkan tentang kebenaran dan kebaikan tanpa banyak resistensi yang bisa melahirkan salah paham yang tidak perlu. It takes two to tanggo dan pembelajaran praksis selalu dalam konteks komunitas, sehingga transformasi bisa dilalui dan dialami bersama sebagai anggota dari the community of practice.

Tulisan ini mencoba menawarkan kerangka konseptual tekologi pendidikan hati dalam dimensi praksis untuk menstimulasi refleksi dan diskusi lebih lanjut untuk menemukan model pembelajaran yang lebih menjanjikan. Insight awal didapatkan dari deontik bahasa. Bahasa dilihat sebagai tindakan (secara teknis disebut tindakan ilokusi) memiliki dimensi normativitas, termasuk moral, yang melekat di dalamnya pada semua bahasa. Karena berbahasa tidak bisa dihindari, maka penggunaan dimensi ini juga, positip atau negatip, tidak bisa dihindari. Tergantung pembiasaan selama ini, seseorang dalam tindakan tindakan berbahasa menggunakannya sesuai prinsip prinsip deontik atau bukan, tergantung kesadaran yang bersangkutan. Yang juga tidak bisa dihindari dalam hidup adalah selalu beroperasinya emotioning atau perasaan tertentu ketika mengalami atau melakukan sesuatu, seperti perasaan suka, bosan, sedih, dan lain sebagainya. Tidak ada pengalaman yang dilalui tanpa diikuti dengan emotiong tertentu. Ini cara kita mengada.

Ke dua hal yang tidak bisa dihindari ini, yaitu emotioning dan languaging, masing masing bisa mengekspesikan dua kelompok nilai: positivitas atau negativitas. Pertanyaannya: di mana dan kapan nilai nilai ini dioperasikan? Jawabannya: ketika sedang dalam perjumpaan perjumpaan. Yang menarik adalah, dalam kehidupan keseharian kita, perjumpaan dengan sesama juga tidak bisa dihindari. Apakah ke tiga hal yang tidak bisa dihindari dalam hidup ini terjadi secara kebetulan? Tulisan ini ingin menunjukkan bahwa ketiga hal ini tidak bisa dihindari dalam hidup bukan karena kebetulan, tetapi karena keharusan untuk tujuan tertentu yang sangat penting untuk kehidupan kita.

Emotioning dan languaging beroperasi dalam perjumpaan perjumpaan, yang berarti normativitas dari ke duanya juga beroperasi dalam perjumpaan perjumpaan. Apa tujuan perjumpaan? Selama ini perjumpaan dilihat memiliki tujuan sesuai yang dikehendaki oleh para pihak yang berjumpa. Perjumpaan adalah sarana agar dialog tentang tujuan bisa berlansung atau bisa dirumuskan. Jadi tujuan perjumpaan bisa berbeda beda; tujuan perjumpaan bisa tidak sama antara yang satu dengan yang lainnya.

Yang ditawarkan dalam tulisan ini adalah gagasan bahwa semua jenis perjumpaan memiliki hanya satu tujuan: untuk memperjumpakan dan mempersatukan hati! Yang lainnya yang selama dianggap sebagai tujuan tujuan sebenarnya bukan tujuan tetapi salah satu indikator dari kebehasilan perjumpaan. Aktivitas yang dimiliki perjumpaan untuk mencapai tujuan intrinsiknya ada dua: sikap batin (emotioning) dan tindakan lahir, yaitu tindakan berbahasa (yang nantinya akan melahirkan tindakan tindakan lainnya yang non-bahasa). Bila perjumpaan adalah lembaga untuk mempersatukan hati, maka sarana yang digunakan adalah positivitas emotioning dan positivitas tindakan berbahasa. Memilih negativitas dari keduanya akan membuat hati saling menjauh. Antara sarana dan tujuan harus sesuai, dan sarana yang baik adalah sarana yang paling efektif untuk mencapai tujuan. Ini tuntutan rasionalitas biasa. Bila hubungan baik dengan sesama adalah tuntutan eksistensial, maka masuk akal kenapa perjumpaan, emotioning, dan tindakan ilokusi adalah fenomena yang tidak bisa dihindari dalam hidup manusia, karena ketiganya adalah syarat wajib yang harus ada untuk tujuan konektivitas hati, tetapi bukan syarat cucup. Syarat cukup adalah beroperasinya positivitas yang terkait dengan emotioning dan tindakan tindakan ilokusi.

Selama ini perjumpaan perjumpaan yang ada belum dilihat memiliki tujuan intrinsik tunggal. Yang ada adalah pluralitas tujuan dari perjumpaan perjumpaan. Artinya apa? Perjumpaan tidak dilihat memiliki tujuan intrinsik, maka perjumpaan selama ini hanya dilihat sebagai sarana dan secara transitif ini berarti para pelaku perjumpaan adalah juga sarana atau alat. Ini berarti, secara tidak sadar, kita memposisikan diri lebih rendah dari tujuan tujuan perjumpaan. Akibatnya, yang dominan dalam kehidupan sosial kita adalah persaingan persaingan, di semua level, dengan pola relasi dominan yang terbangun adalah menang atau kalah. Akibatnya, ancaman perpecahan terjadi di mana mana, nyaris menjadi trend yang tak terbendungkan.

Apa yang harus dilakukan untuk memperbaiki keadaan? Yang harus dilakukan adalah redifinisi konsep perjumpaan dan memulai normalisasi praktek praktek perjumpaan dalam institusi pembelajaran yang dirancang sesuai tujuan intrinsik dari perjumpaan itu sendiri.

Institusi pembelajaran yang diperlukan tidak bisa didapatkan di dalam institusi institusi perjumpaan yang ada karena mind set tujuan perjumpaan masih bersifat instrumental. Oleh karenanya diperlukan institusi pembelajaran yang khusus dirancang untuk perbaikan praktek praktek perjumpaan. Institusi tersebut adalah semacam bengkel perjumpaan, di mana setiap bengkel memiliki komunitas pembelajar yang memiliki komitmen untuk bersama sama berlatih mempraktekkan perbaikan perbaikan dalam perjumpaan. Institusi pembelajaran perjumpaan dengan tujuan seperti ini kita namakan "sekolah perjumpaan"("olah jumpa"); sekolah ini tidak memilki ciri fisik seperti sekolah biasa, tetapi cirinya adalah komunitas yang ada di dalamnya memiliki collective consciousness untuk terus menerus bersama sama berlatih dalam setiap perjumpaan mereka mempraktekkan nilai nilai yang akan melahirkan emergence keberterimaan hati.

Tulisan ini sebagiannya merupakan abstraksi dari pengalaman pembelajaran di sebuah komunitas sejak dua tahun lalu yang sekarang ini telah berkembang secara alami menjadi lima belas komunitas lebih (permintaan terus meningkat), dan sebagiannya lagi merupakan hasil refleksi dan diskusi dalam rangka pencarian model pembelajaran praksis yang kriteria perumusannya sangat berat, yaitu, a.l., yang secara konseptual relatif sederhana, murah, bisa masif (scalable), sustained, dan tentu yang lebih optimistik. Proposal ini tentu masih sangat jauh dari kriteria ini. Tetapi sebagai proposal yang menawarjan langkah awal untuk memulai sebuah gerakan pembelajaran praksis yang berbasis kesadaran kolektif mungkin perlu mendapatkan pertimbangan, karena dalam dunia praksis, tanpa bisa dihindari, kita terpaksa harus terus berlayar sambil memperbaiki kerusakan kapal.





     
      Baca Selengkapnya »      

Senin, 24 April 2017

KESADARAN DAN PEMBELAJARAN


KESADARAN DAN PEMBELAJARAN

Oleh: Dr. M. Husni Mu’adz



ciri umum kesadaran adalah bahwa ia selalu terkait dengan sesuatu di luar dirinya. Tidak ada kesadaran tanpa ada “obyek” yang disadari. Bila saya memikirkan atau menginginkan sesuatu, maka sesuatu itu adalah entitas yang berbeda dengan saya. Saya adalah subyek, dan sesuatu itu bisa subyek atau bisa juga obyek. Saya dan sesuatu berada dalam relasi tertentuyang dalam filsafat disebut intensionalitasdiekspresikan melalui kata verba psikologis seperti memikirkan, merasakan, menyadari, menginginkan dan seterusnya. Kesadaran, dengan kata lain, bersifat relasional. Secara ontologis, disadari atau tidak, kita sebagai subyek secara umum sudah mengada dan selalu sudah (always already) mengada dalam tiga kategori relasi kesadaran, yaitu:

1.  Relasi subyek dengan obyek (subject-object relation)

2.  Relasi subyek dengan subyek (intersubjectivity).

3.  Relasi subyek dengan Tuhan (subjectGod relation).



Dari tiga bentuk relasi ini, relasi intersubyektif merupakan titik konjungsi yang bukan saja mempengaruhi dua bentuk relasi lainnya, melainkan juga menjadi prasyarat bagi lahirnya tindakan yang menjadi ciri khas subyek ketika berhubungan dengan sesuatu di luar dirinya. Tindakan adalah sesuatu yang khas dan hanya dimiliki oleh subyek, dan tidak dimiliki oleh obyek. Tindakan dibedakan dengan kejadian karena yang pertama diatur oleh xe "kesadaran"kesadaran dan kehendak bebas ketika berhadapan dengan berbagai opsi tindakan. Tindakan tidak tunduk kepada xe "hukum kausalitas"hukum kausalitas, karena penyebab setiap tindakan tidak akan bisa ditemukan di luar subyek itu sendiri. Penyebab atau penentu tindakan adalah kehendak yang dimiliki oleh manusia. Adapun hal-hal lain di luar subyek, bukan sebagai sebab atau penentu yang pasti dan tetap bagi lahirnya sebuah tindakan.

Berbeda dengan itu, kejadian adalah sesuatu yang terjadi pada obyek, atau pada subyek bila beroperasi tanpa xe "kesadaran"kesadaran, yang tunduk kepada xe "hukum kausalitas"hukum kausalitas yang bersifat deterministik. Kejadian dipastikan memiliki sebab yang bisa dilacak kepada unsur di luar dirinya. Kejadian ini bisa berbentuk kejadian mekanik, yang penyebabnya adalah unsur-unsur fisik, atau bisa juga berbentuk kejadian biologis yang penjelasan mengenai sebab-sebabnya adalah dalam kerangka stimulus dan respon. Seekor kucing bisa memunculkan ekspresi fisik-biologis tertentu karena makanan yang didekatkan kepadanya. Akan tetapi apapun reaksi si kucing, itu bukanlah tindakan, melainkan kejadian biologis yang bisa dijelaskan dalam kerangka stimulus dan respon yang tunduk kepada xe "hukum kausalitas"hukum kausalitas, yang tentunya melibatkan variabel-variabel yang lebih kompleks dari kejadian mekanik yang bisa disebabkan karena sebab tunggal atau sebab-sebab yang variabelnya lebih sederhana. Sistem sosial hanya bisa mewujud karena adanya tindakan sadar dari subyek, yang menjadi komponen yang membentuk hubungan atau relasi tertentu. Tanpa xe "kesadaran"kesadaran, xe "sistem sosial"sistem sosial yang lahir bukan xe "sistem sosial"sistem sosial manusia, tetapi xe "sistem sosial"sistem sosial non-ABC .

Relasi subyek-obyek adalah relasi kita dengan obyek material seperti mobil, rumah, dan lain lain, atau obyek abstrak, seperti ide, konsep, dan lain lain. Hubungan subyek dengan obyek dalam relasi ini bersifat xe "monologis"monologis, xe "one way"one way, yaitu hubungan aktif-pasif, hubungan yang mengetahui dengan yang diketahui, atau hubungan yang menguasai dan yang dikuasai. Obyek sendiri tidak pernah menyadari dirinya diketahui atau dikuasai. Sebaliknya, relasi subyek-subyek adalah relasi sosial, relasi kita dengan orang lain. Relasi antar subyek (xe "intersubjectivity"intersubjectivity) bersifat dialogis, dua arah, dan mutual, karena pihak pertama dan pihak kedua sama-sama berfungsi sebagai subyek yang sejajar. Relasi ketiga, relasi subyek dengan Tuhan, adalah relasi ketakwaan, relasi penyerahan diri (ketundukan) dan kepasrahan, yaitu relasi Pencipta dengan yang diciptakan, relasi Yang menguasai dengan yang dikuasai.

Ketiga relasi ini menggunakan moda xe "kesadaran"kesadaran dan fakultas mental yang berbeda-beda, sebagaimana akan kita lihat nanti. Penggunaan fakultas mental yang tidak sesuai dengan tipe relasi yang dibangun akan melahirkan xe "abnormalitas"abnormalitas hu­bungan, yang pada tahap selanjutnya akan mengakibatkan lahirnya subyek yang tidak normal. Fakultas yang kita gunakan untuk berhubungan dengan obyek adalah kognisi (akal, intelek, memori dan lain lain). Hasil interaksi dengan obyek ini adalah pengetahuan tentang obyek (pengetahuan kognitif) dan hasil yang lainnya adalah transformasi obyek menjadi instrumen dimana obyek kita gunakan untuk tujuan-tujuan kita. Jadi, relasi subyek-obyek melahirkan dua hal yaitu pengetahuan dan xe "artefact"artefact. Obyek material umumnya berada dalam ruang dan waktu dan bersifat kongkrit sehingga bisa diobservasi dan dipersepsi oleh subyek melalui alat-alat indera. Obyek abstrak seperti konsep, ide, dan ingatan adalah produk dari sensasi dan persepsi yang telah diolah oleh akal dan direpresentasikan di dalam otak sehingga ia bersifat xe "second-order"second-order.

Dari uraian relasi subyek-obyek ini kita bisa melihat peran sentral yang dimainkan oleh subyek. Bisakah kita membayangkan apa makna obyek-obyek yang ada di jagad raya ini bila tidak ada manusia sebagai subyek? Subyek adalah sebuah entitas yang membuat semua obyek menjadi bermakna atau, lebih tepatnya, lebih bermanfaat, bagi dirinya. Pertanyaan selanjutnya adalah apa itu subyek? Apa bedanya dengan obyek? Bisakah subyek dilihat dan diperlakukan sebagai obyek? 

Subyek memiliki dua dimensi: dimensi luar (exterior) dalam bentuk badan atau raga, dan dimensi dalam (interior) dalam wujud jiwa atau ruh. Dimensi eksterioritas dari subyek memiliki aspek fisik dan biologis dan diatur oleh hukum yang sama sebagaimana yang mengatur benda fisik dan biologis lainnya di alam ini. Oleh karenanya, dimensi eksterior dari subyek juga adalah obyek dan bisa dipersepsi dan diketahui seperti obyek-obyek yang lainnya. Yang unik pada subyek adalah dimensi interiornya yang tidak dimiliki oleh obyek lain di alam material. Jiwa atau ruh bersifat non-materi dan tidak menempati ruang tertentu seperti obyek. Ia tidak berada di badan atau di otak. Silahkan bedah otak anda, maka yang akan anda lihat adalah otak anda, bukan jiwa anda. Otak, sekalipun berada di dalam kepala, adalah aspek eksterior dari kita. Hubungan antara jiwa dan raga bersifat misteri dan masing-masing tidak bisa direduksi menjadi bagian dari yang lainnya, seperti yang dibayangkan oleh aliran matrialis. Tapi keberadaan keduanya tidak bisa diragukan. Silahkan ragukan keberadaan jiwa anda bila bisa, maka keraguan anda adalah bukti dari keberadaan jiwa atau xe "kesadaran"kesadaran anda. Sebab ketika anda ragu, maka subyek yang sedang ragu itu adalah jiwa anda, seperti inilah argumen yang diberikan Descartes. Keberadaan keduanya adalah keniscayaan dan tidak bisa diragukan.

Bila aspek eksterior dari subyek bisa dilihat sebagai obyek, maka aspek eksterior bukanlah ciri keunikan dari manusia, karena ciri-cirinya bisa kita dapatkan pada obyek-obyek lainnya di alam ini. xe "Struktur"Struktur fisik-kimia dari subyek sama dengan obyek alam lainnya. Kebiasaan makan, minum, seks dari kita sebagai subyek, juga terdapat pada makhluk hidup lainnya. Jadi aspek eksternal dari subyek bukanlah esensi yang dimiliki secara unik oleh subyek. Saya bisa menunjuk, ini tangan saya, ini kaki saya, ini muka saya, akan tetapi tangan saya, kaki saya, dan muka saya, tidaklah sama atau identik dengan saya. Hubungan saya dengan muka saya adalah hubungan kepemilikan, bukan hubungan intrinsik. Dengan perkataan lain, saya dibadankan (xe "embodied"xe "embodied"embodied) dalam/melalui badan saya; bukan saya adalah badan saya atau badan saya adalah saya. Karena xe "embodied"xe "embodied"embodied, maka saya dengan badan saya tidak bisa dipisahkan, setidak-tidaknya selama kehidupan di alam material ini. Bila badan saya bukanlah saya, maka semua apa yang saya miliki, seperti kekayaan, jabatan, dan lain-lain yang bisa dipisahkan dengan saya adalah juga tidak bersifat intrinsik dan bukan merupakan esensi utama dari saya sebagai subyek. Ini artinya saya bukanlah kekayaan saya atau saya bukanlah jabatan saya. Implikasi dari ini sangat dalam, terutama dalam kaitannya dengan relasi subyek-subyek. Jika masalahnya demikian, lalu apa ciri utama subyek yang bersifat unik itu?

Ciri utama subyek adalah berkaitan dengan dimensi interior dari manusia. Dimensi interior berkaitan dengan jiwa/ruh/kesadaran. Ciri interioritas yang utama dari manusia yang bisa kita akses adalah xe "kesadaran"kesadaran (xe "consciousness"xe "consciousness"consciousness). Kesadaran yang dimaksud di sini bersifat ontologis, bukan psikologis. Artinya, hanya subyek yang memiliki xe "kesadaran"kesadaran, sedangkan obyek tidak memiliki xe "kesadaran"kesadaran. Kesadaran memiliki alat bantu yang berbentuk fisik seperti emosi, rasa, intelek, memori dan yang lainnya yang dimanfaatkan oleh subyek ketika ia mengalami sesuatu. Dalam keadaan tidurpun, subyek selalu memiliki xe "kesadaran"kesadaran, karena dalam keadaan tidur, ia juga mengalami sesuatu. Bandingkan dengan obyek seperti batu atau meja. Benda-benda ini selamanya tidak mengalami sesuatu karena tidak memiliki xe "kesadaran"kesadaran, sementara manusia tetap memiliki xe "kesadaran"kesadaran walaupun ia sedang dalam keadaan tertidur. Inilah yang saya maksudkan dengan xe "kesadaran ontologis"xe "kesadaran"kesadaran ontologis (xe "ontological consciousness"xe "ontological consciousness"xe "ontological consciousness"ontological xe "consciousness"xe "consciousness"consciousness).

Tentu terdapat perbedaan pengalaman ketika kita sedang tidur dan ketika kita sedang terjaga. Ketika kita sedang tidur, kita tidak menyadari (xe "aware"aware) tentang apa yang sedang kita alami, berbeda dengan ketika kita sedang terjaga. Perbedaan pengalaman waktu jaga dan waktu tidur ini adalah perbedaan yang berkaitan dengan xe "kesadaran psikologis"xe "kesadaran"kesadaran psikologis. Ketika kita tertidur pulas dan kita tidak menyadari apa yang sedang kita alami, kita masih tetap memiliki xe "kesadaran"kesadaran. Dengan kata lain, keadaan kita ketika sedang tertidur tidaklah sama dengan batu yang sama sekali tidak memiliki xe "kesadaran"kesadaran. Jadi semua subyek, secara ontologis, memiliki xe "kesadaran"kesadaran, berbeda dengan obyek. Inilah keunikan subyek yang tidak dimiliki oleh obyek. Berbeda dengan obyek, subyek dengan dimensi interiornya (xe "kesadaran"kesadaran jiwanya) memiliki potensi untuk mengalami sesuatu: mengetahui, mengingat, merasakan, mengharapkan, menginginkan dan lain-lain.

Karena potensi xe "kesadaran"kesadaran inilah kenapa kita berbicara subyek sebagai titik sentral, sebagai sesuatu yang menjadi ciri eksklusif manusia, yaitu relasi antara subyek dengan yang lain-lainnya. Obyek, karena tidak memiliki xe "kesadaran"kesadaran, tentu tidak akan mampu membangun relasi dengan yang lainnya kecuali secara mekanis. Itulah sebabnya relasi yang dimiliki antar obyek bersifat mekanis yang diatur berdasarkan xe "hukum kausalitas"hukum kausalitas. Hubungan antar subyek dengan yang lainnya diatur berdasarkan hukum xe "kesadaran"kesadaran, bukan berdasarkan xe "hukum kausalitas"hukum kausalitas mekanis.

Salah satu ciri xe "kesadaran"kesadaran adalah berkaitan dengan subyektivitas. Ketika saya mengalami rasa sakit, yang memiliki akses terhadap rasa sakit itu adalah saya sendiri. Dokter yang sedang memeriksa saya tidak memiliki akses terhadap apa yang saya rasakan. Ia boleh jadi mengetahui makna sakit dan bisa memberikan diagnosa secara tepat, tetapi apa yang ia ketahui dan alami tidaklah sama dengan apa yang saya alami. Mengetahui sesuatu, termasuk tentang rasa sakit, tidak sama dengan mengalami dan merasakannya. Rasa sakit yang sedang saya rasakan hanya saya sendiri yang mengalaminya. Orang lain, termasuk dokter saya, tidak bisa mengalami apa yang saya alami. Kesadaran (dalam hal ini rasa sakit saya) hanya bisa diakses secara subyektif oleh yang mengalaminya. Itulah sebabnya, pengalaman batin hanya bisa diakses oleh diri yang mengalaminya. Jadi subyek adalah agen yang memiliki xe "kesadaran"kesadaran yang merupakan inti dari interioritas. Kesadaran yang dimiliki subyek adalah unik dan subyektif. Tidak ada subyek lain, apalagi obyek, yang memiliki akses terhadap xe "kesadaran"kesadaran yang dimiliki subyek tersebut. Jadi keunikan subyek berkaitan dengan xe "kesadaran"kesadaran yang dimilikinya yang berada dan merupakan inti dari aspek interioritas subyek.

Perlu dicatat bahwa sekalipun xe "kesadaran"kesadaran dan pengalaman yang dilahirkan dari xe "kesadaran"kesadaran bersifat unik dan hanya dapat diakses secara subyektif oleh subyek, semua subyek memiliki xe "kesadaran"kesadaran dengan ciri dan properties yang sama. Dengan xe "kesadaran"kesadaran yang ada pada masing-masing subyek, masing-masing memiliki dimensi dan isi interioritas yang sama. Pada level interioritas atau xe "ontological consciousness"xe "ontological consciousness"xe "ontological consciousness"ontological xe "consciousness"xe "consciousness"consciousness, semua subyek adalah sama dan identik. Karena xe "kesadaran"kesadaran adalah sesuatu yang keberadaannya tidak bisa diragukan oleh masing-masing subyek, dan karena secara ontologis semua xe "kesadaran"kesadaran yang menjadi ciri dan esensi utama dari masing-masing subyek adalah sama, maka xe "kesadaran"kesadaran bukanlah termasuk isu pengetahuan bagi masing-masing subyek. Dengan kata lain, xe "kesadaran"kesadaran bagi subyek, bukan sesuatu yang berkaitan dengan pengetahuannya. Pengetahuan berkaitan dengan dunia obyek, yang dilakukan oleh subyek melalui fakultas xe "kesadaran"kesadaran kognitifnya. Jadi, subyek dengan ciri utama xe "kesadaran"kesadaran tidak bisa dilihat sebagai obyek. Jiwa atau xe "kesadaran"kesadaran tidak menempati ruang, sebagaimana telah disinggung di atas, karenanya ia bukanlah obyek yang bisa diketahui melalui indera dan intelek manusia. Untuk urusan xe "kesadaran"kesadaran, otak manusia tidak dipersiapkan untuk memahaminya. Menurut filosof xe "Colin McGinn"xe "Colin McGinn"xe "Colin McGinn"xe "Colin McGinn"xe "Colin McGinn"Colin McGinn kita dan xe "kesadaran"kesadaran kita berada dalam xe "cognitive closure"xe "cognitive closure"xe "cognitive closure"xe "cognitive closure"cognitive closure. Artinya, otak kita tidak dipersiapkan atau diprogram untuk bisa memahami apa hakikat xe "kesadaran"kesadaran dan kognisi kita hanya bisa memahami dimensi eksterioritas dari subyek. Kesadaran tidak bisa melihat dan memahami xe "kesadaran"kesadaran; subyek tidak bisa melihat dirinya sebagai subyek, sebab tatkala melihat dirinya, subyek yang dilihat telah berubah menjadi subyek dan yang ditangkap oleh subyek adalah dimensi eksternal darinya: pikiran, perasaan, emaginasi dan lain-lain.

Bila subyek tidak bisa dilihat sebagaimana obyek, maka hakikat relasi antar atau inter subyek tidaklah sama dengan hakikat relasi antar subyek dengan obyek. Hubungan antar subyek (intersubyektivitas) tidak bersifat xe "monologis"monologis melainkan dialogis. Intersubyektivitas bukanlah hubungan antara yang mengetahui dan yang diketahui, bukan juga hubungan antara yang menguasai dan yang dikuasai, karena yang demikian itu merupakan ciri hubungan subyek-obyek, seperti yang telah dibahas sebelumnya. Hubungan intersubyektif adalah hubungan dialogis, bersifat dua arah, karena yang berhubungan adalah antar dua xe "kesadaran"kesadaran yang memiliki ciri yang sama: masing-masing tidak bisa diakses sebagai obyek. Kesadaran yang merupakan ciri penting dari interioritas masing-masing subyek adalah sama dan sejajar sehingga antara keduanya bersifat mutual dan dialogis. Hubungan dialogis yang dimaksudkan di sini bukan bersifat kognitif, karena hubungan kognitif berarti hubungan antara yang mengetahui dan yang diketahui yang selalu bersifat xe "monologis"monologis. Hubungan antar subyek bukan hubungan dalam rangka untuk mengetahui atau mengendalikan. Hubungan antar subyek adalah hubungan rekognitif yaitu hubungan saling mengakui keberadaan dan martabat masing-masing. Jadi tujuan intersubyektivitas adalah agar terjadi proses saling mengakui dan saling menerima (xe "mutual recognition"xe "mutual recognition"mutual xe "recognition"recognition dan mutual acceptance).

Karena hubungan antar subyek bersifat mutual dengan menggunakan xe "kesadaran rekognitif"xe "kesadaran"xe "kesadaran rekognitif"kesadaran (dalam hal ini kesadaran rekognitif), maka hakikat hubungan antar subyek adalah pengakuan imbal-balik, yaitu pengakuan dan penghargaan akan eksistensi dan keunikan masing-masing pihak. Karena keunikan tersebut berkaitan dengan dimensi interioritas dengan ciri intrinsik yang sama dari masing-masing subyek, maka keunikan dari masing-masing subyek bersifat homogen. Di sinilah terdapat paradoks dan sekaligus non-paradoks antara konsep keunikan dan homogenitas. Unik karena nilainya tidak bisa digantikan dengan apapun, dan homogin atau sama karena masing-masing adalah unik dan tidak bisa digantikan oleh apapun. Berbeda dengan hubungan subyek-obyek, hubungan subyek-subyek adalah hubungan bersifat intrinsik dan dibutuhkan oleh masing-masing subyek demi kesempurnaan pertumbuhannya. Semua orang akan merasa sakit bila keberadaannya tidak diterima, direndahkan, apalagi dianggap tidak ada. Hubungan antar subyek yang tidak bersifat rekognitif, seperti permusuhan, persaingan, peperangan dan yang lainnya adalah sebenarnya manifestasi dari perjuangan yang gagal untuk saling mengakui (xe "mutual recognition"xe "mutual recognition"xe "recognition"xe "struggle for recognition"xe "struggle for recognition"struggle for xe "recognition"recognition, meminjam istilah yang digunakan xe "Alex Honneth"xe "Alex Honneth"xe "Alex Honneth"Alex Honneth).

Salah satu manifestasi dari adanya relasi saling mengakui (xe "mutual recognition"xe "mutual recognition"mutual xe "recognition"recognition) yang merupakan esensi dari hubungan antar subyek adalah lahirnya konsensualitas. Di atas kita telah menunjukkan bahwa ciri xe "kesadaran"kesadaran adalah subyektivitas. Apa yang dialami subyek selalu bersifat subyektif dimana subyek memiliki akses eksklusif terhadap pengalaman yang dihadapi, sementara subyek lain tidak memiliki akses langsung terhadapnya. Inilah keunikan subyek: masing-masing memiliki otonomi penuh terhadap dirinya. Setiap subyek memiliki harapan, kebutuhan, dan keinginan yang khas, dan masing-masing subyek memiliki kebebasan untuk memutuskan apa yang hendak dilakukan. Itulah sebabnya kenapa setiap kerjasama sosial harus lahir dan diputuskan secara konsensual oleh masing-masing subyek yang terlibat. Pemaksaan berdasarkan kekuasaan bertentangan dengan prinsip otonomi masing-masing subyek dan prinsip xe "mutual recognition"xe "mutual recognition"mutual xe "recognition"recognition antar subyek. Bebeda dengan hubungan antar obyek yang sepenuhnya ditentukan berdasarkan prinsip kausalitas yang bersifat mekanistik, hubungan antar subyek dalam rangka kerja sama sosial harus ditentukan berdasarkan persetujuan tulus dari masing-masing subyek. Inilah implikasi dari konsep saling mengakui dan saling menghargai, karena masing-masing subyek memiliki dimensi interioritas otonom yang tidak bisa diakses, apalagi didominasi, oleh subyek lain.

Relasi sosial yang tidak berdasarkan prinsip konsensualitas berarti relasi yang dibangun tidak berdasarkan xe "kesadaran"kesadaran xe "kesadaran rekognitif"xe "kesadaran"xe "kesadaran rekognitif"rekognitif di mana masing-masing partisipan adalah subyek otonom, melainkan berdasarkan xe "kesadaran"kesadaran obyek (xe "kesadaran"xe "kesadaran kognitif"kesadaran kognitif). Karena xe "kesadaran"xe "kesadaran kognitif"kesadaran kognitif yang digunakan, maka dimensi subyek yang dilihat adalah dimensi  ekterioritasnya saja, sehingga yang nampak  adalah apa yang dimiliki atau melekat pada diri seseorang, seperti bentuk fisik, status, kekayaan, gelar, dan lain-lain. Kesadaran obyek seperti ini akan membuat kita selalu membanding-bandingkan antara apa yang kita miliki dengan apa yang dimiliki oleh orang lain ketika kita berinteraksi dengan mereka. Inilah akar dari lahirnya rasa persaingan, kompetisi, sikap iri dan dengki yang akan bermuara pada berbagai macam konflik sosial. Harmoni dan kerja sama sosial tidak akan lahir bila tidak berdasarkan prinsip konsensualitas yang lahir berdasakan xe "kesadaran rekognitif"xe "kesadaran"xe "kesadaran rekognitif"kesadaran rekognitif.

Dari uraian di atas, kita sampai pada kesimpulan berikut. Karena hakikat subyek adalah kesadaran dan karena entitas yang disadarinya tidak selalu sama, maka dimensi kesadaran (xe "realms of consciousness"xe "realms of consciousness"realms of xe "consciousness"xe "consciousness"consciousness) yang beroperasi ketika subyek berinteraksi dengan obyek, ketika subyek berinteraksi dengan subyek lainnya, dan ketika subyek berinteraksi dengan Tuhan tidaklah sama. Medan xe "kesadaran"kesadaran dari masing-masing bisa dibedakan sebagai berikut:

1.  xe "Kesadaran kognitif"Kesadaran kognitif atau obyektif (xe "cognitive consciousness"cognitive xe "consciousness"xe "consciousness"consciousness) terkait dengan xe "kesadaran"kesadaran relasi subyek dengan obyek. Kesadaran ini berkaitan dengan fakultas untuk memahami, mengingat, atau memikirkan obyek.

2.  Kesadaran rekognitif (xe "recognitive consciousness"recognitive xe "consciousness"xe "consciousness"consciousness) berkaitan dengan xe "kesadaran"kesadaran relasi subyek dengan subyek. Kesadaran ini berkaitan dengan fakultas untuk membangun pengakuan, penghargaan, empati, dan kasih sayang terhadap sesama subyek. Fakultasnya adalah hati atau nurani.

3.  Kesadaran xe "trans-(re)kognitif"trans-kognitif dan/atau trans-rekognitif, yaitu yaitu berkaitan dengan xe "kesadaran"kesadaran relasi subyek dengan Tuhan. Kesadaran xe "trans-(re)kognitif"ini adalah moda moda xe "kesadaran"kesadaran yang melampaui moda xe "kesadaran"kesadaran (1) dan (2), yaitu kesadaran yang tidak dominan melibatkan fikiran dan ingatan kita pada objek dan pada manusia. Fakultasnya adalah hati yang lebih dalam (ruh atau spirit). Untuk memudahkan kita sebut tipe kesadaran ini kesadaran spiritual atau kesadaran ruhani.

Hubungan subyek-subyek atau intersubyektif, berbeda dengan hubungan subyek-obyek. Hubungan subyek-obyek menggunakan fakultas xe "kesadaran"xe "kesadaran kognitif"kesadaran kognitif, sedangkan hubungan subyek-subyek menggunakan fakultas rekognitif (dengan rasa, dengan hati). Berbeda dengan hubungan pertama dan kedua, hubungan subyek-Subyek, hubungan subyek dengan Tuhan bersifat devotional (hubungan penghambaan). Bila hubungan yang kedua adalah hubungan kesetaraan, dimana segala urusan bersama harus dirancang berdasarkan persetujuan bersama (xe "mutual agreement"mutual xe "agreement"xe "agreement"agreement), hubungan yang ketiga bersifat asimetrik dimana subyek secara sadar menyerahkan diri kepada Tuhan (hubungan kepasrahan). Tentu ketiga tipe relasi ini bisa berlangsung dalam satu xe "kesadaran"kesadaran subyek, tetapi dengan fokus dan moda yang berbeda.

Tiga perspektif ini melahirkan implikasi adanya tiga tipe pembelajaran yang berbeda-beda, dan masing-masing tidak bisa direduksi menjadi yang lainnya:

 1. Cognitive xe "learning"learning (untuk pembelajaran relasi subyek dengan obyek).

2.  Recognitive xe "learning"learning (untuk pembelajaran relasi subyek dengan subyek).

3.  Spiritual Learning, yaitu pembelajaran yang melampaui pembelajaran kognitif dan rekognitif (pembelajaran membangun relasi subyek dengan Tuhan).

Relasi subyek-obyek dengan perspektif xe "the third person"the third person mengharuskan adanya pembelajaran kognitif (xe "cognitive learning"cognitive xe "learning"learning); relasi subyek-subyek dengan perspektif the second-person mengharuskan adanya pembelajaran rekognitif (xe "recognitive learning"xe "recognitive learning"recognitive xe "learning"learning); dan relasi subyek-Subyek dengan perspektif the first-person mengharuskan adanya pembelajaran xe "trans-(re)kognitif"trans-(re)kognitif (xe "trans-(re)cognitive learning"trans-(re)xe "cognitive learning"cognitive xe "learning"learning). Output dari pembelajaran pertama adalah pengetahuan tentang kebenaran obyek. Kata kerja mengetahui atau tahu melahirkan kata benda pengetahuan. Pembelajaran xe "intersubyektivitas"intersubyektivitas tidak bisa didekati dengan pendekatan kognitif semata. Anda tidak akan pernah menjadi pemaaf atau menjadi pengasih hanya dengan membaca buku tentang kemaafan atau tentang kasih sayang, hanya dengan membaca atau mendengarkan ceramah tentangnya. Output pembelajaran yang kedua tidak terkait dengan pengetahuan praktis saja (pengetahuan moral), tetapi terutama terkait dengan kearifan, dengan xe "wisdom"xe "wisdom"wisdom, yaitu praktik atau keterampilan hidup yang saling berterima dengan sesama. Output pembelajaran yang ketiga terkait dengan ketakwaan pada Tuhan (adanya kesadaran ketuhanan setiap saat). Pembelajaran dalam rangka membangun kepasrahan dan penyerahan diri pada Tuhan secara tulus akan melahirkan ketenangan batin. Ketenangan batin atau jiwa adalah hasil dari pembelajaran atau pengalaman xe "trans-(re)kognitif"trans-(re)kognitif.

Pembahasan-pembahasan selanjutnya akan difokuskan pada bagaimana pembelajaran pada ranah kedua dan ke tiga yaitu pembelajaran intersubyektif yang memerlukan xe "kesadaran rekognitif"xe "kesadaran"xe "kesadaran rekognitif"kesadaran rekognitif yang memungkinkan lahirnya hubungan yang saling berterima dengan sesama yang diharapkan nantinya akan menjadi identitas kehidupan komunitas. Namun demikian, pembelajaran yang berkaitan dengan ranah trans-rekognitif, sekalipun relasi masing masing subyek dengan Tuhan bersifat individual, sebagaimana akan kita lihat, akan lebih efektif dimulai dan diperkuat melalui komitmen yang dibangun secara bersama sama dalam komunitas untuk bersama sama memulai pembelajaran ini. Untuk penyederhanaan, pembelajaran ranah dua dan tiga kita sebut pembelajaran gelar hidup, yaitu pembelajaran praksis yang terkait dengan bagaimana, selama dan di akhir kehidupan, kita bisa mendapatkan gelar hidup seperti amanah, jujur, penuh kasih, pemaaf dan yang sejenisnya, untuk membedakannya dengan pembelajaran untuk mendapatkan gelar di ranah kognitif.
     
      Baca Selengkapnya »